REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah Anda membayangkan sebuah ruang kelas yang seharusnya riuh dengan tawa dan lantunan doa anak-anak, mendadak senyap dan terkubur lumpur setinggi dada orang dewasa?
Di MIN 4 Pidie Jaya, sisa-sisa banjir bandang akhir tahun lalu menyisakan pemandangan memilukan: buku-buku yang membatu oleh tanah dan bangku-bangku yang patah dihantam arus. Namun, di tengah hamparan sisa bencana itu, puluhan orang berseragam datang dengan sekop dan semangat yang tak kunjung padam, mencoba merajut kembali harapan dari balik tumpukan lumpur yang pekat.
Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Aceh Besar menerjunkan personelnya untuk melakukan bakti sosial besar-besaran di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Langkah ini diambil untuk mempercepat pembersihan sisa banjir yang memorak-porandakan wilayah tersebut pada pengujung November 2025 lalu.
Kepala Kantor Kemenag Aceh Besar, Saifuddin, yang memimpin langsung aksi di lapangan menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar rutinitas birokrasi. “Kerja bakti ini bukan sekadar bersih-bersih, tetapi wujud kepedulian dan kebersamaan kita sebagai keluarga besar Kemenag," ujarnya di sela-sela penanganan lumpur di Pidie Jaya, Ahad (4/1/2026).
Pembersihan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari ruang kelas, teras, hingga ke lingkungan luar madrasah. Selain berjibaku dengan lumpur yang tingginya mencapai satu meter di beberapa sudut, para ASN juga membantu memilah dan memindahkan fasilitas yang masih tersisa serta menyingkirkan sarana prasarana yang telah hancur total akibat terjangan air.
Tak hanya menyumbangkan tenaga, Kemenag Aceh Besar Peduli bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) juga menyerahkan bantuan logistik dan pendidikan. Berbagai kebutuhan seperti sajadah, mukena, kain sarung, Al-Qur'an, peralatan tulis, hingga susu dan camilan disalurkan langsung kepada para pelajar MIN 4 Pidie Jaya untuk memantik kembali semangat mereka.
Bencana alam yang melanda Aceh beberapa waktu lalu sejatinya memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memelihara optimisme di tengah reruntuhan. Setiap tantangan hidup yang datang, seberat apa pun itu, merupakan ujian ketangguhan yang menuntut manusia untuk terus bergerak maju dan tidak menyerah pada keadaan. Keyakinan bahwa ada fajar di balik kegelapan inilah yang menjadi modal utama dalam proses pemulihan fisik maupun mental pascabencana.
Di sisi lain, tragedi ini menjadi momentum kuat untuk mengasah empati dan solidaritas sosial. Membantu saudara yang tertimpa musibah bukan sekadar anjuran moral, melainkan kewajiban kemanusiaan yang harus diwujudkan dalam aksi nyata. Melalui bantuan tenaga dan materi, beban yang dipikul para korban menjadi lebih ringan, sekaligus mempererat ikatan persaudaraan yang membuktikan bahwa tak ada satu pun warga yang berjalan sendirian dalam menghadapi duka.
sumber : Antara

2 days ago
9















































