REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengimbau warga Kabupaten Gunungkidul, DIY, untuk tidak beraktivitas di ladang hingga larut malam hari menyusul temuan jejak kaki misterius di wilayah Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, beberapa hari lalu. Meski jejak tersebut sempat diduga warga menyerupai tapak kaki harimau, BKSDA menegaskan kecil kemungkinan jejak itu berasal dari satwa buas tersebut.
Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto, mengatakan kemunculan satwa buas seperti harimau di wilayah yang padat aktivitas manusia sangat tidak mungkin terjadi. Sementara lokasi penemuan jejak kaki misterius tersebut di sekelilingnya merupakan lahan pertanian dan padat aktivitas penduduk.
"Kalau binatang buas itu kecil kemungkinan muncul di tempat yang aktivitas warganya padat. Apalagi di lokasi itu banyak kegiatan masyarakat," kata Tugimayanto, dihubungi Republika, Ahad (4/1/2026).
Selain itu, berdasarkan data konservasi, Tugimayanto menegaskan keberadaan harimau di Pulau Jawa, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah tidak ada. Satwa karnivora besar yang masih tercatat keberadaannya di Gunungkidul hanyalah macan tutul, itu pun dengan jumlah yang sangat terbatas dan habitat tertentu.
"Kalau harimau jelas tidak, karena di wilayah Yogya dan Pulau Jawa untuk harimau sudah tidak ada. Kalau macan tutul memang masih ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Namun untuk kejadian ini, saya yakin bukan harimau," ujar dia.
Meski demikian, BKSDA tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di area ladang dan kebun. Warga diimbau untuk menghindari kegiatan hingga malam hari.
"Yang jelas tetap waspada dan hati-hati saja. Karena kita juga belum bisa memastikan jejak itu apa. Untuk aktivitas di ladang, sebaiknya tidak malam-malam, karena binatang buas biasanya keluar pada malam hari," ujarnya.
Terkait upaya lanjutan, Tugimayanto memastikan BKSDA akan terus melakukan pemantauan di lokasi penemuan jejak. Dalam beberapa hari ke depan, petugas berencana kembali mengecek lokasi serta menggali informasi dari warga sekitar.
"Kami tetap memonitor. Beberapa hari nanti akan kami cek lokasi lagi, kami juga akan tanya-tanya ke warga sekitar, karena biasanya masyarakat tahu kalau memang ada kejadian yang mencurigakan," ucap Tugimayanto.
BKSDA juga membuka kemungkinan pemasangan kamera pemantau ke depannya, namun hal tersebut masih akan dikonsultasikan dengan pimpinan. Kamera yang dipasang nantinya bukan CCTV.
"Kalau pun nanti dipasang, bukan CCTV, paling kamera trap. Kamera trap itu hanya memotret ketika ada yang melintas, bukan merekam video," katanya.
Ia mengatakan temuan jejak misterius tersebut merupakan kejadian pertama di wilayah Semanu. Hingga kini, BKSDA belum dapat memastikan jenis hewan yang meninggalkan jejak tersebut karena minimnya data.
Sebelumnya, BKSDA melalui Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul telah mendatangi lokasi penemuan jejak di Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Semanu. Namun jejak tersebut sudah hilang akibat hujan deras sehingga tidak dapat diukur dan dianalisis lebih lanjut.
"Tanda jejaknya sudah tidak ada akibat hujan deras, kami tidak bisa mengukur besaran jejaknya. Jadi kami belum bisa memastikan jenis jejak apa," ungkap Tugimayanto.

1 day ago
6














































