REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sebuah ayat, Allah berfirman,
وَإِنَّهُۥ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَٱتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
wa innahụ la’ilmul lis-sā’ati fa lā tamtarunna bihā wattabi’ụn, hāżā ṣirāṭum mustaqīm
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Az-Zukhruf: 61)
Ada sesuatu yang diam-diam menenangkan sekaligus mengguncang dalam ayat ini. Ia berbicara tentang kiamat, tentang akhir dunia, tentang berhentinya seluruh hiruk-pikuk kehidupan manusia. Namun anehnya, ayat ini tidak terasa dingin atau menakutkan. Ia justru terdengar seperti panggilan lembut agar manusia pulang sebelum segalanya terlambat.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, manusia sering hidup seolah waktu tidak akan pernah habis. Kota-kota terus menyala hingga larut malam. Ambisi tumbuh tanpa jeda. Manusia membangun rumah, mengejar nama, menumpuk rencana demi rencana, seakan hidup akan berlangsung selamanya.
Padahal Alquran berkali-kali mengingatkan: semua yang berjalan sedang menuju akhirnya.
Dalam ayat ini, Allah menyebut Nabi Isa sebagai tanda bagi datangnya hari kiamat. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa salah satu makna ayat ini adalah turunnya Nabi Isa di akhir zaman akan menjadi pertanda besar bahwa dunia telah mendekati penutupnya.
Betapa menariknya, Allah memilih sosok Isa untuk menjadi tanda itu. Sejak awal kehidupannya, Nabi Isa memang hadir sebagai rangkaian keajaiban. Ia lahir tanpa ayah. Berbicara saat masih bayi. Menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah. Dan menurut keyakinan Islam, ia diangkat ke langit oleh Allah, bukan dibunuh sebagaimana yang disangka banyak orang.
Seolah seluruh perjalanan hidup Isa adalah isyarat bahwa dunia ini tidak sepenuhnya berjalan menurut logika manusia.
Dan ketika ia turun kembali menjelang akhir zaman, manusia akan diingatkan sekali lagi bahwa dunia yang selama ini terasa kokoh sesungguhnya sangat rapuh. Bahwa sejarah sebesar apa pun suatu hari akan berhenti. Bahwa peradaban setinggi apa pun akhirnya akan sunyi.
Namun yang paling menyentuh dari ayat ini bukanlah gambaran kiamatnya. Melainkan kalimat setelahnya:
“Karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
Seakan setelah berbicara tentang akhir dunia, Allah langsung menenangkan hati manusia: jangan takut tersesat, jalan pulang itu ada.
Imam ar-Razi menjelaskan bahwa keraguan manusia terhadap akhirat sering muncul karena manusia terlalu tenggelam dalam rutinitas dunia. Hari-hari berjalan biasa. Matahari tetap terbit. Pasar tetap ramai. Teknologi terus berkembang. Hingga manusia perlahan merasa dunia ini akan selalu ada.

3 hours ago
2

















































