Frugal Living Kian Ngetren, Antropolog Soroti Nongkrong Mahal hingga FOMO Belanja

4 hours ago 2

Pembeli memesan minuman kopi di kafe Difabis di kawasan Terowongan Kendal, Jakarta, Sabtu (26/4/2025). Kafe Difabis yang didirikan oleh koperasi difabel dan didukung oleh Pemprov DKI Jakarta serta Baznas DKI Jakarta tersebut memberikan kesempatan bekerja bagi difabel. Kafe tersebut telah menyerap tenaga kerja kelompok difabel sebanyak 21 orang yang tersebar di tujuh titik kafe Difabis. Dalam sehari, mereka mampu menjual sebanyak 130 gelas minuman dengan harga beragam mulai dari Rp18 ribu hingga Rp25 ribu. Keberadaan kafe tersebut menjadi salah satu contoh bagi pelaku usaha dalam menciptakan peluang bisnis yang inklusif dan ramah difabel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di tempat mahal hingga belanja impulsif menjadi jenis pengeluaran yang paling memungkinkan dikurangi ketika seseorang ingin menjalani gaya hidup hemat atau frugal living.

“Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tersier,” kata Semiarto pada Jumat (8/5/2026).

Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu, pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan tersier menjadi salah satu bagian yang paling mudah ditekan dalam pola konsumsi sehari-hari.

Ia mencontohkan kebiasaan nongkrong di mal, membeli kopi premium, hingga makan di tempat mahal sebagai pengeluaran yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Ia mengatakan gaya hidup hemat bukan berarti tidak boleh menikmati hiburan atau konsumsi tertentu, tetapi lebih kepada kemampuan mengatur prioritas pengeluaran secara rasional.

“Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.

Selain pengeluaran gaya hidup, Semiarto juga menyoroti kebiasaan impulse consumption atau konsumsi impulsif yang didorong faktor emosional dan tren media sosial.

“Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO (takut tertinggal tren) aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” ujarnya.

Ia mengatakan kebiasaan membeli barang karena dorongan tren maupun status sosial sering kali membuat konsumsi menjadi tidak esensial.

Menurut dia, fanatisme terhadap merek tertentu maupun kebiasaan mengganti gawai terlalu cepat juga menjadi pengeluaran yang dapat dikurangi.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |