PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, mengingatkan masyarakat tidak terpancing informasi menyesatkan terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang baru saja dinaikkan statusnya menjadi Siaga. Peringatan itu muncul setelah beredarnya video di media sosial yang merekam erupsi besar gunung api di tengah laut tersebut pada malam hari.
Ditegaskan bahwa video yang direkam dari atas sebuah kapal itu bukan erupsi terkini Gunung Anak Krakatau. Isi video letusan dengan ledakan api vertikal ke langit itu dipastikan sebagai informasi palsu atau hoax. PVMBG meminta masyarakat tidak mempercayai apalagi menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi seperti itu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berdasarkan data resmi pemantauan, Gunung Anak Krakatau memang tercatat mengalami dua kali erupsi, yakni pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 14.05 WIB dan Jumat, 3 Juli 2026, pukul 11.50 WIB. Namun, aktivitas vulkanik tersebut masih berada dalam pengawasan intensif petugas.
“Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi atau PVMBG dan MAGMA Indonesia," kata Pelaksana tugas Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Anak Krakatau memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik yang berdampak besar. Erupsi dahsyat 1883 tercatat memicu tsunami besar. Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018, ketika erupsi yang dipicu gempa menyebabkan longsoran sebagian tubuh gunung dan menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Sejak kejadian itu, kata dia, aktivitas erupsi berskala rendah terus berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh gunung. Meski saat ini masih dalam masa jeda erupsi, Lana melanjutkan, aktivitas magmatik berenergi rendah tetap berlangsung.
Lana meluruskan kabar lain yang menyebut radius bahaya Gunung Anak Krakatau mencapai lima kilometer. Informasi tersebut dipastikan tidak benar. “Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau," ujarnya.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Dalam rekomendasi teknisnya, Lana meminta masyarakat di sekitar gunung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujarnya.
















































