Nelayan menyandarkan kapal di dermaga perikanan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Senin (6/6/2022). Ratusan kapal nelayan besar di daerah tersebut tidak melaut sejak sebulan terakhir akibat terimbas kenaikan harga BBM jenis solar industri yang mencapai Rp16.900 per liter.
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non subsidi membuat industri perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kolaps. Ratusan kapal tak bisa melaut hingga menyebabkan ribuan nelayan yang menjadi anak buah kapal (ABK) jadi menganggur.
Menyikapi hal itu, ratusan nelayan dan pemilik kapal yang tergabung dalam Gerakan Nelayan Pantura melakukan aksi unjuk rasa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong, Kabupaten Indramayu, Senin (4/5/2026). Selain berorasi, mereka pun membacakan surat berisi tuntutan mereka yang ditujukan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dan Bupati Indramayu, Lucky Hakim.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura, Kajidin, mengatakan, kenaikan harga solar non subsidi sangat mencekik karena tidak diimbangi dengan naiknya harga ikan. Hal itu mengakibatkan ada ratusan kapal yang saat ini tidak bisa melaut.
“Harga solar naik gila-gilaan. Hampir dua bulan ini kita tamat. Ada ratusan kapal yang tidak melaut,” kata Kajidin.
Pada hari ini, harga solar industri di kisaran Rp 27 ribu per liter. Beberapa waktu sebelumnya, harga solar industri masih di kisaran Rp 16 ribu per liter.
Kajidin mengakui, saat ini masih ada sebagian kapal yang masih berada di laut karena sebelumnya berangkat sebelum harga solar melonjak. Namun, kapal-kapal yang kini di laut itu nantinya juga akan mengalami nasib serupa saat mereka kembali ke darat.
“Itu akan jadi mimpi buruk bagi kita saat kapal itu mendarat, karena mereka juga tidak bisa kembali melaut karena harga BBM semakin melambung,” tukasnya.

9 hours ago
4

















































