Hamka Circle Gelar Diskusi Perdana, Soroti Dakwah Multikultural terhadap Etnis Tionghoa

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Upaya menghidupkan kembali dakwah inklusif Buya Hamka di tengah masyarakat Indonesia terus dilakukan. Salah satunya melalui diskusi perdana Hamka Circle yang digelar baru-baru ini. Forum yang dilangsungkan secara daring pada Jumat (29/5/2026) itu mengangkat tema “Dakwah Multikultural Buya Hamka terhadap Etnis Tionghoa.”

Menurut Direktur Eksekutif CIVIC Uhamka Muhammad Abdulah Darraz, kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas warisan pemikiran Buya Hamka. Banyak gagasan sang ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut yang relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan kini.

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka), Prof. Ai Fatimah Nur Fuad.

Dalam sambutannya, Prof Ai Fatimah menegaskan pentingnya membangun iklim akademik yang produktif di lingkungan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan intelektual dan sekaligus wadah aktualisasi keilmuan.

“Fakultas Agama Islam Uhamka mendirikan sebuah pusat studi yang bernama Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC), untuk dapat melakukan akselerasi dalam bidang kajian dan penelitian para akademisi sehingga mereka dapat mengembangkan profesionalitasnya sebagai dosen dan peneliti,” ujar Ai Fatimah, dikutip dari keterangan tertulis pada Sabtu (30/5/2026).

Muhammad Abdullah Darraz menjelaskan, Hamka Circle adalah salah satu program rutin yang dirancang untuk mengembangkan tradisi kajian ilmiah di kampus.

Menurutnya, forum tersebut dibangun atas semangat keterbukaan serta pengembangan studi keislaman melalui pendekatan interdisipliner.

“Sebagai diskusi perdana, kami mengangkat tema tentang dakwah multikultural Buya Hamka, untuk memastikan pemikiran Buya Hamka mengenai inklusivitas, dialog antarbudaya, dan keadilan sosial dapat diakses oleh generasi muda kini,” katanya.

Dalam sesi utama, Dosen FAI Uhamka Dr. Jaja Nurjannah memaparkan bagaimana Buya Hamka menerapkan pendekatan dakwah yang humanis ketika berinteraksi dengan komunitas Tionghoa di Tanah Air.

Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan kemampuan sang penulis kitab Tafsir al-Azhar itu melampaui sekat-sekat etnis. Ini menjadikan dakwah sebagai sarana membangun hubungan sosial yang harmonis.

“Dakwah Buya Hamka terhadap etnis Tionghoa adalah bukti nyata dari dakwah multikultural yang berbasis pada pemahaman psikologi sosial dan penghormatan budaya. Beliau tidak mendekati mereka dengan sikap menghakimi, melainkan dengan pintu dialog yang terbuka lebar dan penuh empati,” ujar Dr. Jaja dalam paparannya.

Diskusi yang dipandu oleh Dwi Setyowati tersebut berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan dan tanggapan muncul dari peserta, mencerminkan tingginya minat publik terhadap model dakwah yang menekankan dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan pembangunan harmoni sosial. Para peserta juga menilai pemikiran Buya Hamka tidak hanya penting sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai referensi akademik dan sosial yang relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Melalui kegiatan ini, Hamka Circle berharap dapat terus menghadirkan ruang dialog yang mengkaji pemikiran Buya Hamka dari beragam perspektif, mulai dari sastra, politik, hingga teologi kemanusiaan. Forum yang berada di bawah naungan Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) FAI Uhamka tersebut diharapkan menjadi wadah strategis untuk mendiseminasikan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan yang diwariskan Buya Hamka kepada generasi masa kini.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |