Ekosistem Bank Emas RI Berhasil Ubah Aset Logam Mulia Menganggur Jadi Produktif

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG, – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekosistem bank emas Indonesia telah berhasil membuka nilai ekonomi dari logam mulia yang sebelumnya menganggur, mengubahnya menjadi aset finansial yang aktif dan produktif. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela forum SUAR 2026 di Tangerang, Jumat (21/8).

Airlangga menyoroti bahwa inisiatif yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025 ini telah secara signifikan mengubah cara pengelolaan dan integrasi cadangan emas domestik ke dalam sistem perbankan nasional. "Ini menambah nilai ekonomi yang signifikan, karena emas sebelumnya dipandang secara ketat sebagai aset yang tidak termanfaatkan dalam sistem perbankan," tegas Airlangga.

Kini, sekitar satu tahun beroperasi, ekosistem bullion tersebut mengelola antara 153 hingga 180 ton emas, dengan estimasi valuasi finansial mencapai Rp360 triliun (sekitar 20 miliar dolar AS). Airlangga menekankan bahwa ekosistem bullion ini memiliki potensi kuat untuk kinerja yang lebih luas, didorong oleh minat publik yang berkelanjutan terhadap emas sebagai aset safe haven jangka panjang.

Lebih lanjut, pengenalan Exchange-Traded Funds (ETF) berbasis emas, yaitu reksa dana yang didukung oleh emas dan diperdagangkan di bursa efek, telah meningkatkan partisipasi pasar. "Pertumbuhan ini luar biasa karena emas telah menjadi investasi safe haven. Terlebih lagi, kami telah mempromosikan derivatif emas, yaitu ETF. Potensi untuk menarik investasi dan pengelolaan emas masih sangat tinggi," tambah Airlangga.

Kinerja Lembaga Penyalur Layanan Bullion

Data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian per Maret 2026 menyoroti pertumbuhan substansial di seluruh lembaga milik negara yang menawarkan layanan bullion selama setahun terakhir. Pemberi pinjaman milik negara, PT Pegadaian, mencatat ekspansi operasional yang signifikan, dengan basis nasabah Layanan Keuangan Bullionnya membengkak dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.

Lonjakan keterlibatan pengguna ini bertepatan dengan peningkatan hampir dua kali lipat dari tabungan emas publik yang dipegang oleh perusahaan tersebut, yang naik dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton pada periode yang sama. Demikian pula, bank syariah Bank Syariah Indonesia (BSI) menunjukkan momentum yang kuat di seluruh portofolio logam mulianya.

Total aset emas kelolaan bank tersebut, yang mencakup tabungan emas, produk cicilan, dan layanan gadai, naik dari 16,85 ton sebelum peluncuran aktivitas bullionnya pada Januari 2025 menjadi 22,5 ton pada Februari 2026. Permintaan untuk rekening tabungan emas khusus BSI mengalami dorongan paralel, meningkat tajam dari 531.329 nasabah pada Desember 2025 menjadi 766.742 pemegang rekening pada Februari 2026.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |