CANTIKA.COM, Jakarta - Bagi Marisa Paramita, menjadi ibu seharusnya tidak membuat perempuan harus melepaskan mimpi dan kesempatan untuk berkembang. Pandangan tersebut menjadi salah satu pijakan ketika ia bersama Fathya Artha membangun Komunitas Ibu Punya Mimpi (IPM). Berawal dari kelas belajar yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Kartini saat pandemi Covid-19, komunitas ini hadir sebagai ruang bagi para ibu untuk kembali belajar, membangun kepercayaan diri, sekaligus menemukan peluang untuk berdaya secara finansial.
Menurut Marisa, persoalan yang dihadapi perempuan bukan semata-mata kurangnya keterampilan. Ada kesenjangan akses terhadap pengetahuan digital dan finansial, career gap, stigma terhadap ibu yang ingin kembali bekerja, hingga minimnya support system. Karena itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi penting.
Melalui Ibu Punya Mimpi, para ibu tidak hanya belajar, tetapi juga saling mendukung, berbagi pengalaman, membuka peluang kerja, hingga membantu sesama anggota mengembangkan bisnis. Dari sinilah muncul apa yang disebut Marisa sebagai ripple effect yaitu ketika satu ibu berdaya, dampaknya dapat mengalir kepada ibu-ibu lain di sekitarnya.
Kini, di tengah perkembangan AI yang mengubah banyak jenis pekerjaan, Marisa kembali melihat peluang baru. Bersama IPM, ia tengah mengembangkan inisiatif agar ibu-ibu Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berkontribusi sebagai data contributor yang mengajarkan AI tentang bahasa lokal dan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Capaian Marisa mendapatkan apresiasi dalam Apresiasi Swara Cantika 2026 kategori Penggerak Akar Rumput bidang Pemberdayaan Ekonomi Digital.
Kepada Cantika, Marisa berbagi tentang pentingnya komunitas dalam pemberdayaan perempuan, tantangan ibu untuk kembali ke dunia kerja melalui daring, Kamis, 10 September 2026.
IPM awalnya hadir sebagai ruang belajar. Kapan Anda menyadari bahwa ibu-ibu ternyata membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan, yaitu komunitas dan rasa memiliki?
Marisa Paramita: Sebenarnya dari awal kami sudah melihat adanya ketidaksetaraan akses untuk perempuan di Indonesia, mulai dari finansial, investasi kalau mereka memiliki bisnis, sampai pengetahuan digital. Apalagi untuk ibu. Bisa dibilang sebagian besar waktu mereka digunakan untuk keluarga, bukan untuk dirinya sendiri.
Ketika pandemi Covid-19 terjadi, gap dan ketidakpastian itu semakin terasa. Banyak suami kehilangan pekerjaan dan akhirnya beban finansial keluarga juga jatuh kepada istri. Ibu sering kali menjadi CEO rumah tangga atau chief of finance and operations di rumah, tetapi tidak punya cukup akses untuk belajar bagaimana caranya berdaya secara finansial.
Awalnya kami berpikir, yuk bikin kelas yang memang khusus untuk ibu. Bahasanya juga harus ramah ibu. Banyak perempuan mengalami career gap, sehingga ketika ingin belajar lagi, mereka harus mengejar berbagai jargon dan istilah baru. Kami tidak ingin membuat mereka merasa tertinggal hanya karena tidak memahami istilahnya.
Ternyata setelah berjalan, kami melihat bahwa yang membuat mereka bertahan bukan hanya materi belajarnya, tetapi teman-temannya. Mereka pernah bilang, IPM itu seperti “asrama putri”. Ketika kita belajar sesuatu yang baru dan terasa tidak nyaman, ternyata rasanya jauh lebih mudah ketika tahu bahwa orang di sebelah kita juga sedang tidak tahu.
Di situ kami melihat kekuatan komunitas. Ternyata ibu-ibu membutuhkan ruang yang mengatakan, “Tidak apa-apa kalau belum mengerti. Nanti juga bisa.”
Marisa Paramita, Co-Founder Komunitas Ibu Punya Mimpi bersama peserta event Wellness Journey 2025/Foto: Doc. Komunitas Ibu Punya Mimpi
Mengapa pendekatan berbasis komunitas menjadi fondasi penting dalam pemberdayaan perempuan?
Marisa Paramita: Karena sebenarnya itu juga nature-nya orang Indonesia. Kita hidup dengan community base. Ketika menjadi bagian dari komunitas, kita merasa punya tujuan yang lebih besar. Kita tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri.
Kami juga melihat adanya ripple effect. Ketika satu ibu diberdayakan, dampaknya bisa bergerak ke komunitas di sekitarnya. Misalnya ketika seorang ibu sudah punya penghasilan, dia bisa mempekerjakan orang untuk membantu membersihkan rumah, memasak, atau menjaga anak. Orang-orang yang dia pekerjakan itu bisa berasal dari lingkungan sekitarnya.
Jadi ketika kita memberdayakan ibu, ekonomi juga ikut berputar. Karena di Indonesia, ibu itu memang bagian penting dari komunitas.
Kami melihat efek itu secara kuantitatif juga. Dalam salah satu survei, rata-rata satu ibu yang bergabung dengan IPM mengajak sekitar 14 orang lainnya untuk ikut. Ada yang membagikan di media sosial, bercerita kepada teman, bahkan mengajak ibu atau ibu mertuanya.
Kemudian secara kualitatif, ada ibu-ibu yang setelah belajar di IPM akhirnya membangun bisnis sendiri, meluncurkan produknya, sampai bisnisnya menjadi sustained dan profitable. Yang menarik, ketika bisnis mereka berkembang, mereka justru mempekerjakan ibu-ibu lain dari komunitas IPM.
Itu yang menurut saya menjadi circle of life-nya pemberdayaan. Kita memberdayakan satu ibu, kemudian ibu tersebut memberdayakan ibu lainnya.
Dalam konteks perempuan yang mengalami career gap, apa sebenarnya yang paling mereka butuhkan untuk kembali bekerja dan mandiri secara finansial?
Marisa Paramita: Banyak sekali lapisannya. Pertama adalah support system. Perempuan di Indonesia masih menjadi primary caregiver. Ketika tidak punya support system yang baik, otomatis dia akan fokus menjadi ibu rumah tangga.
Misalnya tidak punya uang untuk membayar orang yang membantu menjaga anak, sementara akses daycare juga belum memadai. Jadi secara sistem, kita memang masih perlu banyak perubahan.
Yang kedua adalah kepercayaan diri. Ini yang bisa kami bantu bangun di IPM melalui edukasi. Ketika mereka mulai belajar lagi, mengejar pengetahuan digital, dan melihat bahwa ternyata banyak hal yang masih bisa dipelajari, peluang itu mulai terbuka.
Di program Comeback Journey, misalnya, setelah belajar mereka bisa mengikuti internship di perusahaan. Pengalaman itu kemudian bisa masuk ke CV dan menjadi bekal untuk mencari pekerjaan berikutnya.
Tetapi pada level yang lebih besar, kami berharap ada perubahan kebijakan. Misalnya menghapus batasan usia untuk seseorang yang ingin kembali bekerja setelah career gap, atau tidak lagi menjadikan status tertentu sebagai pertimbangan dalam proses rekrutmen.
Marisa Paramita, Co-Founder Ibu Punya Mimpi bersama volunteer Ibu Punya Mimpi dan peserta event Speed Dating dalam rangkaian acara Festival Mimpi Ibu 2026/Foto: Doc. Ibu Punya Mimpi
Apa tantangan terbesar yang masih dihadapi ibu ketika ingin kembali berkarya?
Marisa Paramita: Menurut saya, tantangan terbesarnya adalah stigma dan support system. Dari keluarga, misalnya, masih ada pertanyaan, “Kamu kan sudah jadi ibu rumah tangga, kenapa mau bekerja lagi?” Ada juga kekhawatiran dari perusahaan, misalnya kalau anaknya sakit, nanti pekerjaannya terganggu.
Padahal menjadi ibu justru membuat seseorang punya kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Setiap hari anak punya milestone baru, ada saja situasi yang membuat kita harus beradaptasi dengan cepat.
Saya justru melihat ibu-ibu memiliki daya tahan dan efisiensi yang luar biasa. Di IPM, semua karyawan kami adalah ibu. Kalau mereka punya waktu 20 menit, benar-benar 20 menit itu digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai goal.
Perusahaan sebenarnya sedang kehilangan banyak talent pool ketika mereka menganggap ibu bukan lagi talenta. Ada yang sebelumnya menjadi head of PR di bank besar, ada juga yang lulusan S2 Chemical Engineering. Mereka berhenti bekerja untuk fokus kepada anak, tetapi bukan berarti kompetensi mereka hilang.
Jadi perusahaan perlu melihat seseorang berdasarkan kredibilitas dan kemampuannya, bukan statusnya sebagai ibu.
IPM juga membuka akses kolaborasi dengan brand dan peluang kerja. Sepenting apa membangun ekosistem agar pemberdayaan ini berkelanjutan?
Marisa Paramita: Sangat penting. Kalau hanya memberikan pelatihan, lalu selesai, dampaknya tidak akan panjang. Kita perlu menciptakan ekosistem yang memungkinkan ibu menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendapatkan penghasilan.
Ketika seorang ibu sudah punya kemampuan, kita perlu membuka akses ke internship, pekerjaan, kolaborasi dengan brand, atau kesempatan membangun bisnis. Jadi ada perjalanan setelah belajar.
Kami ingin ibu tidak hanya merasa, “Oh, saya sudah ikut kelas.” Tetapi ada perubahan nyata setelahnya. Dia bisa bekerja, punya bisnis, menghasilkan uang, bahkan kemudian mempekerjakan ibu lainnya.
Sebagai seorang software developer sekaligus penggerak komunitas, bagaimana Anda melihat peran teknologi dalam memperluas akses pemberdayaan perempuan?
Marisa Paramita: Teknologi itu sebenarnya hanya tools. Ibaratnya kalau kita mau memasak, teknologinya adalah pisau. Yang memasak tetap manusianya.
Jadi manusia harus bisa beradaptasi dengan teknologi. Tetapi di sisi lain, teknologi juga harus tahu siapa penggunanya dan apa yang mereka butuhkan. Jangan sampai kita membuat teknologi yang terlalu canggih tetapi tidak cocok dengan kemampuan atau kebutuhan orang yang menggunakannya.
Karena itu sekarang kami sedang fokus pada bagaimana teknologi bisa menjadi support system bagi ibu-ibu Indonesia. Kami sedang mengembangkan inisiatif yang berhubungan dengan AI dataset, di mana ibu-ibu bisa menjadi data contributor dan mengajarkan AI tentang local language dan local knowledge. Mereka juga mendapatkan penghasilan dari kontribusi tersebut.
Saya ingin teknologi yang kita bangun memang suitable untuk ibu-ibu Indonesia, termasuk ibu-ibu di daerah. Bayangkan ibu di daerah yang koneksi internetnya tidak selalu cepat. Atau pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari yang tidak pernah tertulis di internet. Teknologi hari ini mungkin belum tentu memahami itu.
Padahal AI membutuhkan knowledge on the ground. Misalnya, kapan banjir rob masuk ke suatu wilayah, bagaimana masyarakat di daerah tertentu menghadapi perubahan iklim, atau bagaimana cara menanam sesuatu berdasarkan pengetahuan lokal.
Itu adalah wisdom yang dimiliki ibu-ibu dan komunitas. Menurut saya, pengetahuan seperti itulah yang harus masuk ke dalam teknologi agar AI menjadi lebih adil dan bisa berbicara dalam bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat.
Marisa Paramita, Co-Founder Komunitas Ibu Punya Mimpi sedang menjelaskan apa itu program Baibu kepada peserta pelatihan/Foto: Doc. Ibu Punya Mimpi
Saat ini IPM sudah menjangkau sekitar 90 ribu ibu dari berbagai platform. Di tengah perkembangan AI, apa fokus berikutnya?
Marisa Paramita: Sekarang kami justru melihat AI sebagai tantangan sekaligus peluang. Banyak pekerjaan yang kemungkinan akan terdampak AI, seperti virtual assistant atau content creator.
Karena itu kami ingin mengarahkan ibu-ibu menjadi bagian dari perkembangan teknologi, bukan hanya menjadi orang yang terdampak. Salah satunya melalui peran sebagai data contributor untuk AI.
Kami ingin ibu-ibu mengajarkan AI tentang bahasa lokal dan pengetahuan lokal. Selama ini ketika bicara tentang orang yang memiliki pengetahuan, kita sering membayangkan orang dengan PhD atau master degree dari luar negeri.
Padahal AI membutuhkan data dari lapangan. Misalnya pengetahuan ibu-ibu di daerah tentang cuaca, banjir, cara bertani, atau kebiasaan masyarakat setempat. Pengetahuan itu sangat berharga.Jadi ke depan kami ingin ibu-ibu bukan hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi gurunya AI.
Jika ada seorang ibu yang merasa mimpinya sudah terlalu jauh atau terlambat untuk dikejar, apa yang ingin Anda katakan kepadanya?
Marisa Paramita: Tidak ada kata terlambat dan tidak ada kata tidak bisa. Yang ada adalah belum. Mungkin mimpinya belum tercapai 20 tahun lalu, tetapi bisa saja waktunya dua hari lagi. Saya pernah tinggal di luar negeri dan melihat perempuan berusia 40 tahun kembali ke universitas untuk menjadi dokter. Bahkan ada yang baru menjadi dokter di usia 50 tahun. Di sana hal seperti itu normal.
Saya ingin menormalisasi hal itu di Indonesia. Usia 40 bukan berarti sudah tidak bisa bekerja atau belajar lagi. Ibu bisa menjadi apa pun yang ibu mau, di usia berapa pun. Kalau memang ingin mengejar sesuatu, cari orang-orang yang mau melihat kita sukses. Kalau ada lingkungan yang tidak suportif, tidak apa-apa mencari circle yang lebih positif.
Stigma apa tentang perempuan dan ibu yang paling ingin Anda ubah melalui gerakan Ibu Punya Mimpi?
Marisa Paramita: Bahwa ibu pasti bisa. Saya ingin orang berhenti melihat ibu sebagai seseorang yang produktivitasnya akan terganggu karena anak. Justru ibu punya kemampuan adaptasi, kreativitas, tanggung jawab, dan survival skill yang sangat tinggi.
Indonesia kehilangan banyak talenta bagus karena batasan usia dan status. Coba kalau kita membuka kesempatan yang lebih adil dan merekrut berdasarkan kemampuan, bukan status sebagai ibu. Saya yakin banyak pekerjaan dan proyek yang justru bisa dikerjakan dengan lebih efisien.
Saya ingin lebih banyak ibu diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari ekonomi dan duduk di meja-meja pengambilan keputusan. Karena menjadi ibu bukan akhir dari mimpi. Menjadi ibu juga bisa menjadi awal dari banyak mimpi baru.
Pilihan Editor: Road to ASCA 2026: Merajut Cerita Perempuan Penggerak Perubahan untuk Indonesia
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































