REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG – Pendidikan Islam menghadapi tuntutan untuk keluar dari pola pembelajaran yang hanya berorientasi pada transfer pengetahuan.
Di tengah perubahan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan kompleksitas persoalan sosial, madrasah hingga perguruan tinggi Islam dituntut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuannya untuk menjawab persoalan di lingkungan sekitar.
Isu tersebut mengemuka dalam Bedah Buku Manajemen Cinta Sebagai Hidden Kurikulum di Madrasah karya H Akhmad Sunhaji dan Hj Helmi Halimatul Udhamah serta buku Ekosistem Mutu Pendidikan Islam Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak karya Hj Helmi Halimatul Udhamah dan H Ari Hasan Ansori.
Kegiatan yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syekh Manshur Pandeglang bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang itu berlangsung di Pendopo Pemkab Pandeglang, Selasa (22/9/2026).
Gagasan utama yang dibahas adalah perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan pendidikan Islam.
Pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang tersampaikan kepada peserta didik, tetapi juga dari perubahan dan manfaat yang muncul setelah proses pendidikan berlangsung.
Penggagas Bedah Buku, Agus Hidayatullah, mengatakan perubahan tersebut diperlukan agar lembaga pendidikan Islam, baik madrasah, pondok pesantren maupun perguruan tinggi Islam, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fondasi nilai keislaman.
“Buku ini mengkritisi model pendidikan Islam yang sekadar berfokus pada transfer ilmu agama secara teoritis tanpa menyentuh realitas disrupsi teknologi dan sosial,” kata Agus.
Menurut dia, paradigma baru pendidikan Islam harus mampu mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan akademik, perkembangan sains dan teknologi, serta kesiapan peserta didik menghadapi kehidupan modern.
Dengan demikian, pendidikan Islam tidak diposisikan sebagai ruang yang terpisah dari perubahan sosial. Sebaliknya, madrasah dan lembaga pendidikan Islam perlu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
Persoalan mutu pendidikan juga tidak dapat dibebankan hanya kepada guru atau tenaga pendidik. Mutu merupakan hasil dari ekosistem yang melibatkan banyak unsur, mulai dari kepemimpinan lembaga, tata kelola, orang tua, masyarakat hingga pemerintah.
Wakil Ketua I STAI Syekh Manshur Pandeglang sekaligus narasumber bedah buku, Dr Ari Hasan Ansori, mengatakan konsep ekosistem menjadi penting karena kualitas pendidikan lahir dari interaksi berbagai elemen yang saling mendukung.
“Mutu pendidikan tidak bisa dicapai hanya oleh peran guru di kelas. Mutu merupakan hasil dari interaksi harmonis berbagai elemen,” ujar Ari.

2 hours ago
4















































