
Oleh: Muhammad Ilham SE, M.IKom, Pengamat Media Lokal dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie
REPUBLIKA.CO.ID, Dahulu, dunia media adalah sebuah hierarki yang rapi. Redaktur duduk di puncak menara gading, menentukan apa yang layak menjadi konsumsi publik. Radio adalah kawan setia di pagi hari, dan koran adalah kitab suci informasi.
Namun, dalam satu dekade terakhir, menara itu runtuh. Kekuasaan berpindah ke tangan mesin yang kita sebut algoritma. Di tengah badai digital yang membuat raksasa media global bertumbangan, media konvensional, terutama radio lokal, sedang berada di titik nadir sekaligus titik balik yang paling menentukan.
Banyak media konvensional hari ini terjebak dalam fenomena Digital Sharecropping. Mereka seperti petani yang rajin mencangkul, tapi tanahnya milik orang lain. Mereka memproduksi konten bermutu tinggi, membiayai wartawan ke lapangan, lalu menyerahkan hasilnya secara cuma-cuma ke platform seperti TikTok, Instagram, atau YouTube demi mengejar angka engagement.
Masalahnya, algoritma platform digital tidak dirancang untuk kejujuran atau akurasi. Ia dirancang untuk "retention". Akibatnya, media konvensional sering kali terpaksa menurunkan standar jurnalisme-nya demi judul clickbait agar bisa terbaca oleh algoritma. Jika ini terus dilakukan tanpa membangun rumah sendiri (baca: kanal digital mandiri), media konvensional sebenarnya sedang membiayai kehancurannya sendiri. Mereka memberikan data audiens secara gratis kepada raksasa teknologi yang kelak akan memakan kue iklan mereka.
Radio lokal, silaturahmi yang dimonetisasi
Di tengah kemelut media besar yang pusing mengejar trafik, radio lokal di daerah justru memiliki senjata rahasia yang tidak dimiliki algoritma tercanggih sekalipun, yakni kedekatan emosional.
Radio di daerah bukan lagi sekadar pemancar frekuensi, melainkan admin kehidupan warga. Di saat platform media sosial penuh dengan kebisingan dan informasi anonim, radio lokal hadir sebagai entitas yang nyata. Ketika jembatan di sebuah desa putus, warga tidak lari ke sosmed, mereka mengirim pesan ke WhatsApp Radio. Di sinilah terjadi mekanisme social paywall (berlangganan).
Radio lokal tidak butuh teknologi pembayaran yang rumit. "Pembayaran" dari pendengar mereka berupa loyalitas. Data dari grup-grup WhatsApp radio lokal adalah emas murni bagi pengiklan daerah. Radio tahu siapa yang butuh kerja, siapa yang baru melahirkan, dan siapa yang butuh pupuk.
Strategi bertahannya adalah dengan melakukan konversi dari udara ke darat. Event-event offline seperti senam pagi, pasar kaget, hingga pengajian bersama menjadi sumber pendapatan yang jauh lebih nyata daripada recehan iklan digital platform. Radio lokal yang selamat adalah mereka yang berhenti menganggap diri sebagai stasiun musik dan mulai menjadi pusat komunitas.
Invasi AI, ancaman efisiensi tanpa nurani
Kini, tantangan baru muncul. Namanya Artificial Intelligence (AI) atau Akal Imitasi. Di ruang redaksi, AI masuk seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi luar biasa. AI bisa menulis laporan bursa saham, hasil pertandingan bola, hingga ramalan cuaca dalam hitungan detik. Bagi pemilik modal, ini adalah mimpi tentang penghematan biaya operasional.
Namun, bagi jurnalisme, AI adalah tantangan eksistensial. Berita yang dihasilkan mesin sering kali kehilangan angle dan empati. AI tidak bisa menangkap getaran suara saksi mata di lokasi bencana, ia tidak bisa melakukan investigasi off-the-record di warung kopi, dan ia tidak memiliki nurani untuk menimbang dampak sosial dari sebuah tulisan.
Bahaya terbesarnya adalah Deepfake dan krisis kepercayaan. Jika ruang redaksi mulai malas dan menyerahkan sepenuhnya konten mereka pada mesin, maka media tersebut akan kehilangan jati dirinya. Saat semua informasi di internet bisa dipalsukan oleh AI, media konvensional harus mengambil peran sebagai "The Great Verificator". Nilai jual media di masa depan bukan lagi kecepatan, melainkan otoritas kebenaran. Orang akan kembali ke media yang memiliki alamat kantor jelas dan wartawan yang bisa digugat secara hukum jika salah.
Strategi funneling, menjadikan algoritma salesman
Media konvensional yang cerdas tidak memusuhi algoritma, mereka menungganginya. Strategi yang berhasil dilakukan oleh media seperti Vidio.com atau Kompas.id adalah strategi Funneling. Media sosial digunakan hanya sebagai etalase atau pancingan.
Cuplikan gol pertandingan bola atau potongan berita investigasi yang bombastis ditaruh di media sosial. Namun untuk mendapatkan pengalaman penuh, audiens harus masuk ke aplikasi atau website milik sendiri. Di sinilah media memiliki kendali penuh atas data dan pendapatan. Jangan biarkan audiens tinggal di lahan orang lain. Ajak mereka pulang ke rumah Anda.
Media konvensional tidak akan mati selama mereka tidak menjadi pengekor tren digital yang dangkal. Masa depan media ada pada dua kutub, yakni Hyper-Local dan High-Trust.
Radio lokal akan terus hidup selama mereka tetap menjadi tetangga yang baik bagi pendengarnya lewat WhatsApp dan event komunitas. Sementara itu, media cetak dan TV akan bertahan jika mereka menjadi benteng terakhir melawan banjir hoaks yang dihasilkan oleh AI dan algoritma.
Kita harus berhenti mengejar angka likes dan mulai kembali mengejar kepercayaan. Karena pada akhirnya, algoritma bisa berubah, platform bisa bangkrut. Namun, hubungan emosional dan integritas informasi adalah aset yang tidak bisa dikloning oleh mesin apa pun. Media konvensional harus beradaptasi tanpa harus kehilangan jiwanya. Menjadi digital adalah keharusan, tetapi tetap menjadi manusiawi adalah kemutlakan.

3 hours ago
2
















































