REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah puing-puing sisa banjir yang menyapu Sumatera, ada satu "luka" yang tak terlihat kasat mata, namun dampaknya bisa merusak masa depan satu generasi: trauma psikologis anak-anak.
Ketika gedung sekolah kembali berdiri, pertanyaan terbesarnya bukanlah soal kurikulum mana yang harus dikejar, melainkan bagaimana memastikan jiwa-jiwa kecil itu pulih dari kengerian. Proses pemulihan mental ini sangat krusial, karena ruang kelas baru akan bermakna jika hati dan pikiran anak-anak telah merasa aman kembali untuk menyambut ilmu pengetahuan.
Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hilman Mufidi meminta sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk berperan aktif membantu pemulihan kondisi mental para siswa korban bencana. Ia menekankan pentingnya intervensi psikologis sejak dini.
"Kami berharap sekolah bisa membantu proses pemulihan mental peserta didik yang mayoritas mengalami trauma pasca bencana Sumatera,” ujar Hilman, dikutip di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa banyak siswa korban bencana mengalami trauma mendalam akibat peristiwa mengerikan yang mereka alami. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan harus menelan pil pahit kehilangan orang tua atau anggota keluarga terdekat.
Salah satu contoh trauma yang dialami adalah acute stress disorder (ASD). Anak-anak bisa mengalami kilas balik (flashback) kejadian bencana secara tiba-tiba, sulit tidur karena mimpi buruk, atau menjadi sangat takut saat mendengar suara keras seperti hujan lebat atau sirene. Kondisi ini membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial dan kehilangan minat untuk bermain atau berinteraksi.
Selain itu, trauma juga bisa bermanifestasi dalam bentuk kecemasan berlebihan atau kesulitan konsentrasi saat belajar. Siswa mungkin menjadi lebih reaktif, mudah marah, atau justru menjadi sangat pendiam dan pasif. Kehilangan orang tua atau rumah membuat mereka merasa dunia tidak aman, sehingga fokus mereka terpecah antara rasa takut yang menghantui dan tuntutan akademik di sekolah.
Kondisi tersebut, ucap Hilman melanjutkan, berpotensi memengaruhi perkembangan emosional, konsentrasi belajar, dan motivasi anak dalam jangka panjang. “Pembukaan sekolah harus disertai pendampingan psikologis agar siswa dapat kembali belajar secara optimal,” ujarnya.
Ia lalu meminta sekolah menjadi ruang aman bagi siswa dengan mengedepankan pendekatan yang ramah anak. Pendekatan ramah anak di sini berarti sekolah bertransformasi menjadi lingkungan yang menjamin hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam konteks pascabencana, ini berarti guru-guru harus menjadi pendengar yang baik, fasilitator yang sabar, dan menciptakan suasana kelas yang suportif.
sumber : Antara

1 day ago
8














































