Anak Muda Diajak Kritis dan Aktif Ambil Peran Hadapi perkembangan AI

55 minutes ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak anak muda untuk berpikir kritis dan aktif mengambil peran dalam menghadapi perkembangan AI, media sosial, dan dinamika politik di era digital.

Pesan tersebut disampaikan Ibas saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Kebangsaan “AI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?” di Ruang Abdul Muis, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Seminar ini diikuti mahasiswa dari berbagai universitas dan turut dihadiri sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI, yakni Marwan Cik Asan, Rizki Natakusumah, Sabam Sinaga, Bramantyo Suwondo, Hillary Brigitta Lasut, Hasani, dan Zulfikar.

Dalam dialog tersebut, Ibas juga mengingatkan bahaya filter bubble dan pengaruh algoritma media sosial terhadap cara masyarakat memperoleh informasi.

Menurutnya, algoritma mempelajari perilaku pengguna berdasarkan apa yang ditonton, disukai, dilewati, dibagikan, bahkan berapa lama sebuah konten dilihat. Kondisi ini membuat pengguna dapat menerima informasi yang semakin sesuai dengan preferensi mereka.

“Kadang-kadang kita merasa sedang memilih konten. Padahal algoritma juga sedang memilih apa yang akan kita lihat,” kata Ibas.

Persoalan menjadi lebih serius ketika mekanisme tersebut masuk ke ranah politik. Algoritma, menurut Edhie Baskoro, dapat memengaruhi informasi yang diterima masyarakat mengenai pemerintah, kebijakan publik, calon pemimpin, maupun isu sosial.

Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menyamakan viralitas dengan kebenaran.

“Viral bukan berarti benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah,” ujarnya.

Ibas, yang merupakan lulusan S2 Nanyang Technological University tersebut menilai demokrasi digital membutuhkan bukan hanya freedom of speech, tetapi juga freedom to think.

“Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara. Tetapi di era digital, kita juga harus punya kebebasan untuk berpikir, memeriksa data, mendengar berbagai perspektif, dan berani mengatakan bahwa mungkin kita salah,” tuturnya.

Ibas juga menilai politisi tidak boleh menutup diri dari perkembangan media sosial, termasuk TikTok. Politisi harus mampu hadir di berbagai ruang komunikasi publik agar gagasan dan kerja politik dapat diketahui masyarakat.

Namun, ia mengingatkan agar media sosial tidak menjadikan politik sekadar perlombaan mengejar views, likes, dan followers.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |