
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Demetriana Tahan
Di era ketika perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan melainkan realitas yang kita hadapi saat ini, peran institusi pendidikan tinggi dalam mencari dan menerapkan solusi inovatif menjadi sangat krusial. Dalam konteks ini, judul 'Akatirta Magelang: Pelopor Solusi Inovatif Pengelolaan Air Berkelanjutan di Era Perubahan Iklim' bukan hanya sekadar klaim, melainkan sebuah visi dan tanggung jawab besar.
Sebagai sebuah institusi yang berfokus pada teknik tirta, Akatirta Magelang memiliki posisi unik untuk berada di garis depan dalam mengembangkan strategi adaptasi dan mitigasi terkait sumber daya air, yang merupakan salah satu sektor paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Opini saya, predikat 'pelopor' yang disematkan pada Akatirta Magelang menunjukkan adanya komitmen proaktif dan visi ke depan yang kuat. Ini berarti Akatirta tidak hanya menunggu masalah datang, tetapi secara aktif mencari jalan keluar melalui penelitian, pengembangan teknologi, dan pendidikan. Pengelolaan air berkelanjutan, di tengah kondisi iklim yang tidak menentu, menuntut lebih dari sekadar metode konvensional.
Dibutuhkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan teknologi modern, kearifan lokal, serta pemahaman mendalam tentang ekosistem air. Akatirta, dengan fokusnya pada teknik tirta, berpotensi besar untuk menjadi pusat keunggulan dalam menciptakan model-model pengelolaan air yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Salah satu inovasi kunci yang bisa dipelopori Akatirta adalah pengembangan sistem pengelolaan air terpadu yang adaptif terhadap perubahan pola curah hujan dan peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi. Ini bisa mencakup teknologi pemanenan air hujan yang lebih efisien, sistem irigasi presisi berbasis sensor, atau bahkan solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NBS) seperti revitalisasi daerah aliran sungai dan pembangunan lahan basah buatan untuk retensi air dan peningkatan kualitas air. Opini saya, institusi ini harus secara aktif mendorong penelitian yang tidak hanya menghasilkan paten, tetapi juga solusi yang dapat langsung diimplementasikan oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Lebih jauh, peran Akatirta sebagai 'pelopor' juga harus tercermin dalam kurikulum pendidikannya. Mahasiswa tidak hanya diajarkan teori dan praktik teknik air tradisional, tetapi juga dibekali dengan pemahaman mendalam tentang dampak perubahan iklim terhadap hidrologi dan ekosistem air. Mereka harus didorong untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi untuk masalah-masalah kompleks, seperti kelangkaan air di musim kemarau ekstrem atau banjir bandang yang merusak di musim hujan. Integrasi mata kuliah tentang kebijakan air, ekonomi lingkungan, dan keterlibatan masyarakat menjadi esensial untuk membentuk insinyur yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan lingkungan.
Dalam opini saya, Akatirta Magelang juga memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Solusi inovatif tidak akan efektif jika hanya berhenti di laboratorium kampus. Akatirta bisa memfasilitasi forum diskusi, lokakarya, dan proyek percontohan yang melibatkan semua pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Misalnya, kerja sama dengan pemerintah daerah Magelang dalam mengembangkan master plan pengelolaan air yang adaptif terhadap perubahan iklim, atau dengan industri untuk mengadopsi teknologi pengolahan air limbah yang lebih ramah lingkungan.
Tentu saja, perjalanan untuk menjadi 'pelopor' tidak akan mudah. Dibutuhkan investasi besar dalam sumber daya manusia, infrastruktur penelitian, dan jaringan kemitraan. Namun, dengan adanya visi yang jelas dan komitmen yang kuat, Akatirta Magelang memiliki peluang emas untuk tidak hanya mencetak insinyur yang unggul, tetapi juga untuk memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Indonesia, khususnya di tengah ancaman perubahan iklim global. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bukan hanya sekadar impian.
Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa Akatirta Magelang, dengan tagline dan fokusnya, berada di posisi strategis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa solusi terhadap krisis air akibat perubahan iklim dapat ditemukan dan diimplementasikan melalui inovasi yang berkelanjutan. Predikat 'pelopor' ini menuntut Akatirta untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan mengedukasi, sehingga Magelang dan sekitarnya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di sektor air. Ini adalah sebuah misi yang mulia dan sangat penting bagi masa depan kita.

1 week ago
8















































