Ada Mossad di Balik Kerusuhan di Iran?

1 day ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kerusuhan menyusul aksi unjuk rasa memrotes kondisi ekonomi di Iran terus meningkat belakangan. Apakah aksi tersebut murni keresahan warga Iran atau ada tangan-tangan asing bermain di belakangnya?

Apa yang awalnya merupakan serangkaian protes murni, yang berasal dari keluhan ekonomi Iran, menurut the Palestine Chronicles, telah berubah menjadi operasi intelijen Israel yang berupaya untuk menggoyahkan Iran. Bkan suatu kebetulan jika pada hari keberangkatan PM Israel dari Amerika Serikat, Presiden Trump mengeluarkan ancaman untuk melakukan intervensi militer.

Aksi di Iran bermula pada 28 Desember, saat para pemilik toko turun ke jalan di berbagai lokasi di Iran. Mereka memprotes kesalahan manajemen pemerintah yang telah memperburuk krisis inflasi di negara tersebut, yang awalnya dipicu oleh sanksi ekonomi Barat.

Selama beberapa hari pertama demonstrasi, tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi, kecuali beberapa kejadian yang terisolasi. Faktanya, ketika unsur-unsur permusuhan muncul dalam aksi protes, terdapat beberapa contoh rekaman dimana mereka diusir oleh massa sendiri dan dituduh sebagai agen.

Protes sering terjadi di Iran karena berbagai alasan dan berakhir tanpa kekerasan. Misalnya, sebuah protes terjadi pada awal bulan Desember, di mana sekitar 5.000 orang diduga melakukan demonstrasi di fasilitas minyak South Pars, yang merupakan aksi protes terbesar sepanjang tahun. Namun, di media sosial, video-video lama dari tahun 2022 dan 2019 beredar bersama dengan klip dan foto yang dibuat oleh AI, yang menggambarkan revolusi nasional.

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett kemudian menerbitkan pesan video yang menegaskan solidaritasnya terhadap dugaan revolusi yang disebut-sebut sedang terjadi. Pada titik ini, tidak ada hal besar yang terjadi di Iran. Namun pesannya jelas: Israel akan meningkatkan ketegangan.

Belakangan, keturunan Shah Iran yang digulingkan ikut serta dalam aksi tersebut, dan mengklaim untuk kesekian kalinya tahun ini bahwa “rezim telah jatuh” dan bahwa ia akan “kembali.” Reza Pahlavi, yang oleh Israel dijuluki sebagai “Putra Mahkota” sejak kunjungannya ke Tel Aviv pada 2023, ingin memulihkan monarki turun-temurun, sekaligus mendukung sistem yang berlawanan, yaitu demokrasi.

Pada Hari Tahun Baru, agen intelijen bekerja keras, mengoordinasikan kerusuhan dan serangan bersenjata melalui kelompok Telegram, menembaki pasukan keamanan, merobohkan patung dan poster, membakar toko, mobil, dan bahkan petugas polisi.

Semuanya seiring dengan meluasnya kampanye propaganda terkoordinasi Israel secara online. Akun Israel berbahasa Persia di X bahkan menerbitkan gambar polisi Iran yang dibuat dengan AI menggunakan meriam air terhadap seorang pengunjuk rasa.

Media oposisi Iran bahkan mulai menyatakan bahwa kota-kota telah “jatuh ke tangan revolusi,” bahwa pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sedang melarikan diri, dan bahwa Ayatollah Khamenei telah melarikan diri dari Teheran, namun ternyata tidak ada satupun yang benar.

Kemudian datatiba nglah mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang berkomentar, "Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka...". 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |