REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU — Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mengumpulkan 350 perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Riau untuk mempertegas kembali posisi Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital. Penguatan ideologi dinilai mendesak di tengah maraknya radikalisme, intoleransi, dan hoaks yang menggerus kohesi sosial.
Kegiatan bertema “Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Di Tengah Masyarakat Dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Raya” digelar di Pekanbaru, 28 Februari 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah dan organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat kesadaran ideologis hingga level akar rumput.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengatakan, bangsa Indonesia memiliki potensi besar yang harus dirawat dalam semangat persatuan. “Melalui sosialisasi nilai-nilai Pancasila, kita harus terus memperkuat persatuan dan mengoptimalkan potensi positif bangsa ini,” kata Yudian dalam siaran pers, Ahad (1/3/2026).
Yudian menegaskan, keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan yang harus dikelola dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. “Setiap warga negara memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, tetapi caranya tidak harus selalu sama. Inilah makna Bhinneka Tunggal Ika yang harus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari.”
Plt Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Prakoso mengatakan, tantangan ideologis di era digital semakin nyata. “Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, kita menghadapi tantangan serius berupa masuknya paham-paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila, termasuk radikalisme, intoleransi, dan penyebaran hoaks yang dapat memecah belah bangsa.”
Prakoso menambahkan, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan kemajuan teknologi, tetapi juga keteguhan karakter bangsa. “Karena itu, BPIP mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.”
Sekretaris Jenderal DPP LPM Muhammad Chairul Idham Dalimunthe mengatakan, penguatan ideologi tidak boleh berhenti meski tantangan berkembang.
Dia mengatakan, gejolak sosial menjadi pengingat pentingnya penguatan ideologi. “Kita berkumpul hari ini karena rasa prihatin. Ketika terjadi gejolak di masyarakat, itu menjadi pengingat bagi kita bahwa penguatan ideologi Pancasila tidak boleh berhenti. Kalau jiwa Pancasila tertanam kuat, masyarakat tidak mudah terprovokasi dan bangsa ini akan tetap damai serta bersatu.”
Dia menegaskan LPM siap menjadi mitra strategis BPIP hingga tingkat bawah. “Jika jiwa Pancasila hidup di tengah masyarakat, maka apa pun yang kita bangun akan kokoh dan berkelanjutan.”

3 hours ago
2
















































