Waspada Super Flu: Ini Fakta Penyebaran, Gejala, dan Pencegahannya

23 hours ago 4

CANTIKA.COM, Jakarta - Super flu menjadi trending topic sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026 ini. Bagi yang belum mendalaminya, super flu merupakan penyakit influenza akibat virus influenza A H3N2 subclade K.

Pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan virus tersebut bukan jenis baru, melainkan varian influenza yang sudah ada sejak beberapa waktu lalu dan sekarang kembali memicu lonjakan kasus di berbagai negara.

Yuk, kita telusuri sederet fakta lainnya tentang super flu.

1. Kasus Super Flu Meningkat di Amerika hingga Jepang 

Tjandra menjelaskan peningkatan kasus flu di Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat sejak Oktober lalu dipicu oleh virus H3N2. Varian subclade K, kata ia, telah mengalami sedikitnya tujuh kali mutasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak November 2025 juga menyatakan virus ini menyebar cepat dan mendominasi di sejumlah negara di belahan bumi utara.

“Data terbaru Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan aktivitas influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat dari 17 negara bagian pada pekan sebelumnya,” kata Tjandra saat dikonfirmasi pada Rabu, 31 Desember 2025.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, dengan sekitar 3.100 kematian selama musim flu kali ini. “Sebagian besar penyebab flu adalah virus H3N2, dan tentu bukan tidak mungkin yang subclade K,” ujar Tjandra.

2. Kemenkes: Kasus Super Flu di Indonesia Masih Terkendali

Direktur Penyakit Menular Kemenkes Prima Yosephine mengatakan hasil surveilans memang menunjukkan bahwa influenza A(H3) saat ini merupakan varian virus yang dominan, tapi tren kasus influenza di Indonesia tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.

Prima menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, virus subclade K di Indonesia telah terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut ia, secara total terdapat 843 spesimen positif influenza yang diperiksa. Dari jumlah itu, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Hasilnya, seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian virus yang telah dikenal sejak lama dan telah bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

Hingga akhir Desember, Prima menambahkan, ditemukan 62 kasus super flu di Indonesia. Kasus itu tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. “Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Prima melalui keterangan tertulis pada Kamis, 1 Januari 2026.

Adapun secara global, Prima menjelaskan peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin. Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan telah menyebar di lebih dari 80 negara.

Sementara itu, di kawasan Asia, fenomena virus subclade K ditemukan sejak Juli 2025. Sejumlah negara yang tercatat sempat mengalami peningkatan super flu antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Meski begitu, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

3. Gejala Super Flu

Berdasarkan penelitian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, kata Prima, gejala super flu yang muncul hampir mirip dengan flu musiman pada umumnya. “Seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” jelasnya.

4. Ibu Hamil dan Balita Rentan terpapar Super Flu

Tjandra juga mengingatkan bahwa ibu hamil, anak balita, dan lansia menjadi kelompok paling rentan terinfeksi super flu. Meski sebagian besar kasus flu bersifat ringan, kelompok berisiko tinggi membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.

“Sebagian besar sakit flu memang ringan dan cukup diatasi dengan obat simtomatik. Tetapi pada flu berat dan kelompok berisiko tinggi, obat antivirus perlu dipertimbangkan,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis dikutip pada Senin, 5 Januari 2026.

Menurut mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian obat antivirus pada pasien flu berat dan mereka yang memiliki risiko komplikasi serius. Kelompok tersebut mencakup ibu hamil, anak di bawah usia enam tahun, lansia di atas 65 tahun, penderita penyakit kronik, pasien kemoterapi, serta individu dengan sistem imun rendah seperti pengidap HIV.

Tjandra menjelaskan, kelompok rentan lebih mudah mengalami perburukan kondisi jika terinfeksi influenza. Pada ibu hamil, flu dapat berdampak bukan hanya pada kesehatan ibu, tetapi juga janin. Sementara pada balita dan lansia, infeksi flu berisiko berkembang menjadi pneumonia atau komplikasi lain yang mengancam jiwa.

5. Pencegahan

Tjandra mengimbau masyarakat agar memahami risiko flu ini secara proporsional dan tidak panik. Tjandra menyarankan warga yang mengalami gejala flu untuk menjaga kondisi, memakai masker agar tidak menularkan ke orang lain, dan beristirahat.

“Bila sakit memberat, sebaiknya berkonsultasi ke petugas kesehatan,” katanya.

Prima juga memapakarkan Kementerian Kesehatan mengimbau agar masyarakat  menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, senantiasa menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lanjut usia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

Menurut Prima, vaksin masih terbukti efektif menangkal komplikasi akibat virus flu. “Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian,” kata Prima.

Ia menyatakan, Kemenkes akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.

6. Pengobatan Sesuai Resep Dokter

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menegaskan bahwa obat antivirus flu hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Obat ini berfungsi meringankan gejala dan memperpendek durasi sakit, terutama jika dikonsumsi dalam satu hingga dua hari sejak gejala muncul.

“CDC merekomendasikan antivirus bagi pasien flu yang dirawat di rumah sakit, pasien dengan flu sangat berat, dan kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronik, diabetes, atau penyakit jantung,” ujar Tjandra.

Dalam publikasi terbaru CDC pada November 2025, terdapat empat obat antivirus influenza yang telah mendapat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Keempatnya adalah oseltamivir phosphate, zanamivir, peramivir, dan baloxavir marboxil.

Oseltamivir tersedia dalam bentuk pil atau cairan dan dapat digunakan pada berbagai kelompok usia. Zanamivir berbentuk bubuk inhalasi, namun tidak dianjurkan untuk pasien asma dan penyakit paru obstruktif kronik.

Sementara itu, peramivir diberikan melalui suntikan intravena dan baloxavir dalam bentuk pil dosis tunggal, termasuk untuk anak usia lima tahun ke atas.

Baloxavir, lanjut Tjandra, juga dapat digunakan sebagai pencegahan pascapajanan, yakni diberikan setelah seseorang diduga terpapar pasien flu. Namun, ia menekankan bahwa penggunaan antivirus tetap harus berdasarkan indikasi medis.

“Pesan utamanya, kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia tidak boleh menyepelekan flu. Jika gejalanya berat atau memburuk, segera cari pertolongan medis,” tegasnya.

Pilihan Editor: 6 Makanan dan Minuman yang Perlu Dihindari saat Flu, Termasuk Makanan Manis

DINDA SHABRINA | DEDE LENI MARDIANTI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |