Uang, Tanah, dan Manusia: Dinamika Sosio-Ekonomi dalam Sastra Kolonial Australia Abad ke-19

4 hours ago 5

Image Donny Syofyan

Sastra | 2026-08-01 13:48:36

Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ketika membayangkan novel abad ke-19, pikiran banyak orang sering kali melayang ke cerita detektif di lorong berkabut Kota London atau perselisihan kelas sosial di pedesaan Inggris. Namun, di saat yang sama di belahan bumi selatan, benua Australia sedang mengalami transformasi sosial dan ekonomi yang tidak kalah dahsyat. Dari benua yang tadinya menjadi tempat pembuangan narapidana (convict economy), Australia berkembang pesat menjadi pusat ekonomi baru yang didorong oleh perburuan emas (gold rush), pemilikan dan perampasan tanah, spekulasi pasar, serta perdagangan global.

Buku karya Ken Gelder dan Rachael Weaver, Colonial Australian Fiction (2017), membongkar rahasia di balik lahirnya fiksi kolonial Australia dengan menegaskan bahwa novel-novel pada zaman tersebut bukan sekadar cerita petualangan hiburan, melainkan sebuah cermin sekaligus alat sosial untuk memetakan posisi manusia dalam jaringan ekonomi kolonial yang sedang tumbuh pesat.

Di pertengahan abad ke-19, Eropa sedang dilanda demam klasifikasi ilmiah. Penulis-penulis seperti Honoré de Balzac di Prancis atau Albert Smith di Inggris mengibaratkan manusia di kota besar layaknya spesies dalam dunia hewan. Konsep yang dikenal sebagai zoologi sosial ini kemudian terbawa hingga ke Australia. Para penulis fiksi kolonial mulai mengamati dan mengategorikan setiap orang yang mereka temui ke dalam tipe-tipe karakter sosial yang erat kaitannya dengan posisi ekonomi. Sastra kolonial menjadi panduan etnografi bagi para pembaca untuk membaca identitas, moralitas, dan fungsi ekonomi dari setiap individu yang lalu lalang di jalanan Sydney, Melbourne, maupun di pedalaman (the bush).

Dalam galeri fiksi kolonial, tipe karakter pertama yang sangat dominan adalah squatter atau tuan tanah pastoral. Mereka adalah peternak domba atau sapi skala besar yang menguasai ribuan hektar lahan kerajaan (Crown land) dan menjadi motor utama ekonomi kolonial. Dalam fiksi era tersebut, para squatter membangun apa yang disebut sebagai ideologi pastoral dengan memposisikan diri sebagai kelas aristokrasi baru. Mereka ditampilkan sebagai sosok kaya raya yang tidak hanya jago mengelola bisnis peternakan, tetapi juga berbudaya tinggi, gemar membaca sastra klasik Eropa, dan membangun rumah megah (homestead). Namun, posisi mereka sebenarnya sangat rentan, di mana novel-novel kerap membenturkan impian manis ini dengan kenyataan pahit berupa ancaman kekeringan, kebangkrutan utang bank, bentrokan berdarah dengan suku Aborigin, hingga ancaman penyamun.

Tipe karakter berikutnya yang tidak kalah ikonis adalah bushranger atau penyamun semak-semak. Karakter ini mengalami evolusi yang sangat menarik dalam fiksi kolonial. Awalnya mereka digambarkan sebagai sosok pembunuh liar yang menakutkan, feral, dan hidup terasing di hutan (seperti tokoh sejarah Michael Howe). Namun seiring berjalannya waktu, fiksi kolonial mengubah mereka menjadi figur yang karismatik, gagah, dan bahkan sangat sopan. Karakter penyamun berpendidikan tinggi atau gentleman bushranger ditampilkan merampok orang kaya, menghormati wanita, dan menjadi simbol perlawanan kelas bawah terhadap hukum serta keserakahan para tuan tanah. Figur seperti Captain Starlight dalam novel Robbery Under Arms atau Morres Blake dalam Outlaw and Lawmaker memperlihatkan bagaimana bushranger bergeser dari penjahat kasar menjadi pahlawan romantik yang dicintai publik.

Ketika kota-kota kolonial berkembang menjadi pusat perkotaan yang rumit dan penuh tipu daya, lahirlah figur detektif kolonial sebagai pahlawan modernitas. Dimulai dari novel karya John Lang berjudul The Forger's Wife pada tahun 1855, detektif kolonial hadir mengisi peran penting. Berbeda dengan polisi biasa yang dalam fiksi sering dianggap kaku atau kurang kompeten, detektif digambarkan sangat intuitif, fleksibel, dan jago menyamar. Mereka bisa menyusup ke kawasan kumuh perkotaan (slums) maupun ruang rapat para politisi kaya. Tugas utama detektif adalah membaca petunjuk untuk mengurai kejahatan finansial, menyingkap penipuan identitas, serta menjaga agar roda ekonomi pasar tetap berjalan aman dan tertib.

Kehidupan keras di pedalaman juga melahirkan tipe-tipe karakter pekerja semak seperti shepherd (gembala) dan swagman (pengembara). Gembala adalah pekerja garis depan yang paling terisolasi di gubuk-gubuk perbatasan (frontier), di mana kehidupan mereka digambarkan sangat keras, kesepian, dan jauh dari kata romantik. Mereka sering menjadi korban pertama dalam bentrokan lahan dengan penduduk asli. Sementara itu, swagman atau sundowner adalah buruh musiman yang berjalan kaki dari satu stasion peternakan ke stasion lain sambil membawa buntelan pakaian. Karakter ini memiliki posisi yang sangat unik dan ambivalen dalam sastra. Di satu sisi mereka dipandang sebagai simbol kebebasan dan keakraban (mateship), tetapi di sisi lain sering dicurigai oleh pemilik properti sebagai pengangguran malas, pencuri, atau ancaman bagi keamanan lingkungan.

Dinamika kehidupan perkotaan kolonial turut memunculkan tipe karakter larrikin dan Australian girl. Larrikin adalah sebutan bagi pemuda jalanan perkotaan yang berkumpul dalam kelompok (push), berpakaian eksentrik, dan sering berbuat onar di jalan-jalan kota seperti Melbourne dan Sydney. Dalam fiksi, mereka menggambarkan kelas bawah (lumpenproletariat) yang berpotensi menjadi kriminal, namun kadang-kadang digambarkan bisa diubah menjadi warga yang berguna jika diberi kesempatan dan bimbingan yang tepat. Di sisi lain, sastra kolonial merayakan hadirnya Australian girl atau gadis Australia kelahiran lokal. Berbeda dengan wanita Inggris yang terikat konvensi kaku, gadis Australia digambarkan lebih berani, pandai menunggang kuda, berpikiran terbuka, dan mandiri. Namun, narasi mereka sering kali menguji apakah kemandirian tersebut bisa bertahan saat dihadapkan pada pilihan pernikahan dan tuntutan status sosial.

Gelder dan Weaver juga mengulas secara kritis bagaimana fiksi kolonial memperlakukan penduduk asli Aborigin. Sastra masa itu sering menggunakan apa yang disebut wacana kepunahan (extinction discourse), yaitu pandangan rasialis Barat bahwa masyarakat Aborigin perlahan-lahan akan menghilang seiring berjalannya kemajuan peradaban Eropa. Akibatnya, karakter Aborigin umumnya dimunculkan dalam peran sekunder. Mereka ditampilkan baik sebagai musuh yang menakutkan di garis batas pemukiman, pembaca jejak (trackers) yang sangat diandalkan oleh polisi maupun penyamun, atau sebagai pekerja yang ditundukkan di stasion-stasion peternakan milik pemukim putih.

Pada akhirnya, melalui pengamatan terhadap berbagai karya penulis besar abad ke-19 seperti Rolf Boldrewood, Henry Kingsley, Catherine Helen Spence, Anthony Trollope, hingga Marcus Clarke, buku Colonial Australian Fiction membuktikan bahwa fiksi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Karakter-karakter ikonis Australia abad ke-19 tidak diciptakan secara kebetulan, melainkan dirancang untuk merespons dinamika uang, tanah, dan kekuasaan di benua baru. Fiksi kolonial membantu masyarakat era tersebut memahami identitas nasional mereka yang sedang lahir—sebuah identitas yang dibangun dari kerja keras, bentrokan kelas, eksploitasi alam, dan pencarian kemakmuran dalam sistem kapitalisme kolonial.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |