Polusi Udara Berisiko Ganggu Kualitas Tidur Hingga Picu Penyakit Kronis

33 minutes ago 2

Deretan gedung bertingkat yang tertutup polusi di Jakarta, Jumat (21/6/2024). Paparan polusi udara dalam jangka pendek dinilai dapat berdampak pada sistem pernapasan dan kualitas tidur, bahkan ketika tingkat polusi masih tergolong rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Paparan polusi udara dalam jangka pendek dinilai dapat berdampak pada sistem pernapasan dan kualitas tidur, bahkan ketika tingkat polusi masih tergolong rendah. Hal ini merujuk pada studi yang dilakukan para peneliti dari University of Cambridge, Inggris, dan Tsinghua University, China.

Penelitian tersebut menemukan sistem pernapasan manusia sangat sensitif terhadap perubahan kadar partikel halus dalam jangka pendek. Bahkan di kota-kota yang tingkat polusi udaranya masih berada di bawah batas paparan harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kualitas udara yang buruk tetap dapat memicu gejala pernapasan.

Dalam studi itu, para peneliti bersama perusahaan teknologi tidur Sleep Cycle menganalisis suara batuk dari sekitar 100 ribu pengguna aplikasi yang berada di 32 kota di 12 negara. Data tersebut dikumpulkan selama 500 hari. Hasil analisis menunjukkan setiap kenaikan konsentrasi partikel halus sebesar 10 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan peningkatan tingkat batuk sebesar 2,4 persen selama lima hari berikutnya.

Peneliti studi Cecilia Mascolo mengatakan temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan tidak adanya ambang batas paparan polusi udara yang benar-benar aman. "Untuk itu, masyarakat dapat mempertimbangkan sejumlah cara untuk mengurangi paparan polusi udara di antaranya dengan memakai masker atau air purifier di rumah," kata Mascolo dilansir laman Euro News, Rabu (16/9/2026).

Selain menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan, batuk yang terjadi pada malam hari juga dapat mengganggu kualitas tidur. Paparan akut terhadap polusi udara dan buruknya kualitas tidur pun dapat berkaitan dengan gangguan kardiometabolik, penurunan kinerja kognitif, serta risiko neurodegeneratif.

Para peneliti juga mengamati kondisi di Los Angeles pada 2025, ketika kota tersebut mengalami musim kebakaran hutan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kondisi polusi ekstrem tersebut, kenaikan konsentrasi partikel halus sebesar mikrogram per meter kubik dikaitkan dengan lonjakan batuk pada malam hari sebesar 10 persen.

Temuan di Los Angeles itu menunjukkan episode polusi udara ekstrem dapat memicu peningkatan gejala pernapasan akut secara langsung dan dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi paparan polusi pada umumnya. Untuk memastikan peningkatan batuk tidak semata-mata dipengaruhi faktor lain, peneliti turut memperhitungkan sejumlah faktor eksternal yang dapat memengaruhi tingkat batuk, seperti kondisi cuaca dan tingkat influenza. Namun, setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan, pola peningkatan batuk yang berkaitan dengan polusi udara tetap terlihat.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |