Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Eskalasi di Teluk terus meningkat setelah pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pun mengumumkan telah mengambil kendali penuh atas Selat Hormuz, Rabu (4/3/2026). Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa tidak ada kapal perang yang diizinkan mendekat dalam radius 800 mil (sekitar 1.287 km) dari wilayah kedaulatan Iran.
Penasihat politik Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menyatakan kepada kantor berita Fars bahwa jalur transit minyak paling strategis di dunia tersebut kini berada di bawah otoritas penuh pasukannya. "Selat Hormuz saat ini berada di bawah kendali penuh pasukan angkatan laut Garda Revolusi," tegas dia seperti dilansir dari Al Mayadeen, Rabu (4/3/2026).
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut. Seorang komandan senior IRGC secara terbuka menantang Trump untuk membuktikan ucapannya.
"Sekarang adalah waktunya untuk mengawal kapal, jadi datanglah dan kawal mereka," ujar komandan tersebut dalam wawancara dengan media Mizan. Ia juga mengejek Trump dengan menyebut Presiden AS tersebut tidak akan mampu mengirim armadanya untuk menyelamatkan mereka yang terdampar di Teluk.
Blokade minyak total
Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, penasihat komandan IRGC, memberikan peringatan yang lebih ekstrem terkait keamanan energi global. Ia menegaskan, Iran akan memblokir seluruh pengiriman melalui jalur air tersebut sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.
"Setiap kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz akan terbakar. Tidak satu tetes pun minyak yang akan diizinkan keluar dari wilayah ini," ujar Jabbari.

1 hour ago
1
















































