Titik Balik Berdarah: Rahasia di Balik Alasan Amerika tak Bisa Lepas dari Konflik Timur Tengah

2 hours ago 1

Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada peristiwa yang tidak selesai pada hari ia terjadi. Ia menjalar, memanjang, dan pada akhirnya mengubah arah sejarah. Serangan 7 Oktober 2023 adalah salah satu di antaranya, bukan sekadar episode kekerasan dalam konflik panjang Palestina-Israel, melainkan titik balik yang mengguncang arsitektur geopolitik Timur Tengah secara lebih luas.

Pernyataan Donald Trump baru-baru ini mempertegas makna strategis momen tersebut. Dalam unggahannya di Truth Social, ia menolak anggapan bahwa Amerika Serikat terseret ke dalam konflik dengan Iran atas dorongan Israel.

Sebaliknya, ia secara eksplisit menempatkan 7 Oktober sebagai pemicu yang memperkuat keyakinan lamanya: bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Di titik ini, 7 Oktober berhenti menjadi peristiwa lokal. Ia berubah menjadi argumen global. Dalam logika Trump, serangan tersebut bukan hanya serangan terhadap Israel, tetapi bagian dari jaringan ancaman yang lebih luas, yang dalam persepsi Washington terhubung dengan Hamas dan Iran.

Dengan demikian, konflik Palestina-Israel direposisi menjadi bagian dari kontestasi strategis yang lebih besar: antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun membaca peristiwa ini semata dari sudut pandang Washington jelas tidak cukup. 7 Oktober juga merupakan ledakan dari akumulasi krisis yang lama diabaikan: pendudukan berkepanjangan, blokade yang menahun, serta ilusi stabilitas yang dibangun melalui normalisasi regional tanpa penyelesaian akar konflik.

Selama bertahun-tahun, isu Palestina dipinggirkan demi agenda geopolitik yang lebih “praktis”. Serangan itu menghancurkan asumsi tersebut.

Dari sana, eskalasi bergerak cepat dan meluas. Gaza berubah menjadi pusat krisis kemanusiaan yang akut. Polarisasi global kian tajam. Jalur-jalur strategis dari Laut Merah hingga Selat Hormuz masuk dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Konflik tidak lagi berdiri sendiri; ia saling terhubung dalam satu rantai krisis regional yang rapuh.

Dalam konteks ini, pernyataan Trump juga mengandung dimensi politik domestik. Dengan menegaskan bahwa Israel tidak “mendorong” Amerika ke perang, ia sedang berbicara kepada publik Amerika yang sensitif terhadap isu keterlibatan luar negeri.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |