REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di balik gaya kepemimpinan Presiden China Xi Jinping, terdapat fondasi intelektual yang dibentuk sejak usia muda. Buku, bagi Xi, bukan sekadar hobi, melainkan instrumen penting dalam membangun cara pandang terhadap dunia.
Dalam berbagai kesempatan, Xi kerap menegaskan kedekatannya dengan dunia literasi. Ia menyebut membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpisahkan dari perannya sebagai pemimpin.
Sejak kecil, Xi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai pendidikan. Ayahnya, Xi Zhongxun, dikenal lebih sering membelikan buku daripada mainan untuk anak-anaknya.
Kebiasaan tersebut membentuk karakter Xi sebagai pembaca yang tekun. Ia mulai tertarik pada sastra dan sejarah sejak usia dini.
Guru lamanya, Chen Qiuying, pernah mengenang bahwa Xi muda sangat menyukai puisi klasik China. Ia disebut terpesona oleh karya penyair Dinasti Tang, Du Fu.
Minat terhadap sastra klasik ini kemudian berkembang seiring waktu. Xi tidak hanya membaca karya China, tetapi juga literatur asing.
Pada masa remaja, Xi mengalami fase penting dalam hidupnya. Ia dikirim ke desa Liangjiahe di Provinsi Shaanxi sebagai bagian dari program “pemuda terdidik”.
Selama bertahun-tahun tinggal di daerah terpencil, buku menjadi sumber kekuatan baginya. Ia tetap membaca meskipun hidup dalam kondisi sederhana.
Xi bahkan membawa dua koper berisi buku saat pertama kali tiba di desa tersebut. Hal ini menunjukkan betapa besar peran literasi dalam hidupnya.
Dalam kesehariannya, Xi memanfaatkan waktu luang untuk membaca. Ia bahkan berjalan jauh hanya untuk meminjam buku yang diinginkannya.
Salah satu karya yang ia cari adalah “Faust” karya Johann Wolfgang von Goethe. Ia berjalan hingga 15 kilometer demi mendapatkan buku tersebut.
Faust adalah karya sastra klasik Jerman yang mengisahkan seorang cendekiawan bernama Faust yang merasa hampa meski telah menguasai banyak ilmu. Dalam keputusasaannya, ia membuat perjanjian dengan Mephistopheles, sosok iblis, untuk mendapatkan pengetahuan, kenikmatan, dan makna hidup, dengan taruhan jiwanya sendiri.
Kisah ini mengeksplorasi konflik batin manusia antara hasrat, moralitas, ambisi, dan pencarian makna, menjadikannya refleksi mendalam tentang batas-batas pengetahuan dan konsekuensi dari keinginan yang tak terbendung.
Xi juga membaca karya filsafat dan politik. Buku “Das Kapital” karya Karl Marx menjadi salah satu yang paling berpengaruh.
sumber : Xinhua

1 hour ago
2














































