REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit itu tidak lagi biru. Ia berubah menjadi merah pucat, seperti luka yang perlahan terbuka di atas Natuna. Dalam beberapa pekan terakhir Maret hingga awal April 2026, warna itu menggantung lama di udara, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
Asap yang semula tipis datang tanpa suara. Ia merayap pelan, lalu menebal, menutup pandangan, menyesakkan napas. Hutan-hutan yang mengering akibat panjangnya musim tanpa hujan berubah menjadi bahan bakar. Sekali tersulut, api tak lagi meminta izin untuk membesar.
Di Kecamatan Bunguran Timur Laut, malam itu menjadi saksi awal dari sesuatu yang lebih besar. Api melahap sekitar 50 hektare lahan, bergerak cepat seperti makhluk yang menemukan jalannya. Dalam hitungan jam, semak dan pepohonan menjadi bara.
Di tengah gelap, tanpa sorot lampu besar, petugas datang. Mereka tidak membawa kemewahan teknologi. Hanya alat seadanya, tubuh yang siap lelah, dan tekad yang tidak boleh padam.
Mereka berjalan. Menembus asap. Mendekati panas. Memukul api dengan ranting dan dahan, cara sederhana yang terdengar nyaris mustahil, tetapi itulah yang mereka miliki.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Hanya suara napas yang berat dan langkah yang terus maju.
Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Api justru muncul di lebih banyak tempat, Bunguran Batubi, Bunguran Utara, hingga Bunguran Barat. Angin kencang menjadi sekutu yang tak diinginkan, membawa bara ke wilayah yang lebih dalam, lebih sulit dijangkau.
Medan menjadi lawan berikutnya. Tanah terjal, jarak panjang, sumber air yang terbatas. Setiap langkah adalah ujian. Setiap titik api adalah pertarungan baru.
Di bawah tekanan itu, luas lahan terbakar terus bertambah. Ratusan hektare hutan berubah menjadi abu. Asap mulai turun ke kehidupan sehari-hari. Jalanan menghilang dalam kabut. Udara tak lagi ramah, terutama bagi anak-anak dan para lansia.
Ketika keadaan mulai melampaui batas kemampuan daerah, keputusan diambil. Status dinaikkan menjadi tanggap darurat. Bukan sekadar formalitas, tetapi sinyal bahwa bantuan harus datang.
Dari langit, bantuan itu akhirnya turun.
Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana berputar di atas Natuna, menjatuhkan ribuan liter air ke titik-titik api yang sebelumnya tak tersentuh. Dari ketinggian, air menjadi harapan.
sumber : Antara

2 days ago
4















































