REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – PBB mengatakan pada Kamis bahwa seorang anak laki-laki Palestina di Jalur Gaza tenggelam dalam banjir yang melanda kamp tendanya, Ini penanda terbaru dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh musim dingin terhadap penduduk wilayah tersebut, dimana banyak yang kehilangan tempat tinggal akibat agresi genosidal Israel selama dua tahun.
Pejabat kesehatan juga melaporkan kematian anak laki-laki berusia 9 tahun lainnya di Gaza pada hari Kamis. Sementara itu, di Tepi Barat, pasukan Israel melakukan penangkapan besar-besaran, menangkap sekitar 50 warga Palestina, banyak dari rumah mereka, kata sebuah kelompok Palestina yang mewakili para tahanan.
Ketika tahun 2026 dimulai, gencatan senjata yang telah berlangsung selama 12 minggu antara Israel dan Hamas sebagian besar telah mengakhiri pemboman besar-besaran Israel di Gaza. Namun warga Palestina masih terbunuh hampir setiap hari oleh tembakan Israel, dan krisis kemanusiaan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Setidaknya tiga tentara Israel tewas di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan, terbunuh oleh serangan militan atau ledakan.
UNICEF mengatakan pada hari Kamis bahwa Ata Mai yang berusia 7 tahun tenggelam pada hari Sabtu dalam banjir besar yang melanda kamp tendanya di Kota Gaza. Kematian Mai adalah kematian anak terbaru yang dilaporkan di Gaza ketika badai, cuaca dingin dan banjir memperburuk kondisi kehidupan yang sudah brutal.
Hampir seluruh penduduk yang berjumlah lebih dari 2 juta orang telah kehilangan rumah mereka, dan sebagian besar tinggal di tenda-tenda kumuh dengan sedikit perlindungan dari cuaca. UNICEF mengatakan Mai tinggal bersama adik-adiknya dan keluarganya di sebuah kamp yang memiliki sekitar 40 tenda. Mereka kehilangan ibu mereka di awal perang.
Video dari tim Pertahanan Sipil, yang ditayangkan di Aljazirah, menunjukkan petugas penyelamat berusaha mengeluarkan jenazah Mai dari lubang yang tampak berisi air berlumpur yang dikelilingi reruntuhan bangunan yang dibom. Orang-orang itu masuk ke dalam air, menarik pergelangan kaki anak laki-laki itu, satu-satunya bagian tubuhnya yang terlihat. Belakangan, jenazah terlihat terbungkus kain berlumpur dan dimasukkan ke dalam ambulans.
Selama beberapa minggu terakhir, hujan musim dingin berulang kali melanda kota-kota tenda yang luas, menyebabkan banjir, mengubah jalan tanah Gaza menjadi lumpur dan menyebabkan bangunan-bangunan yang rusak akibat pemboman Israel runtuh. UNICEF mengatakan setidaknya enam anak, termasuk Mai, kini meninggal karena sebab-sebab yang berkaitan dengan cuaca, termasuk seorang anak berusia 4 tahun yang meninggal akibat runtuhnya bangunan.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan tiga anak meninggal karena hipotermia. “Tim yang mengunjungi kamp pengungsian melaporkan kondisi mengerikan yang tidak boleh dialami oleh anak-anak, dengan banyak tenda yang hancur atau runtuh seluruhnya,” kata Edouard Beigbeder, direktur regional divisi Timur Tengah dan Afrika Utara UNICEF.
sumber : Associated Press

3 hours ago
2








































