Muliadi Saleh
Masjidku | 2025-11-14 15:14:58
Oleh : Muliadi Saleh
Jumat siang itu, Pasangkayu seperti ditimpa cahaya yang jatuh dari ketinggian langit. Laut memantulkan kilau matahari, sementara angin pantai bergerak pelan, seolah menepi untuk memberi ruang bagi sebuah pertemuan rohani. Di hadapan saya berdiri Masjid Terapung yang oleh masyarakat dikenal sebagai Masjid Nafsu Kifaah—Jiwa Perjuangan. Sebuah nama yang tidak lahir dari kebetulan, tetapi dari sejarah yang disulam dengan keringat, tekad, dan doa.
Masjid ini pernah menjadi gagasan seorang bupati, Dr. Agus Ambo Djiwa. Ia ingin menghadirkan sebuah rumah ibadah yang bukan sekadar tempat bersujud, tetapi penanda zaman—pengingat bahwa Pasangkayu adalah kabupaten yang lahir dari perjuangan panjang. “Masjid harus berada di antara laut dan daratan,” katanya kala itu. “Karena sebagian penghuni kabupaten ini hidup di antara keduanya.” Maka jadilah masjid itu mengapung, seperti doa yang tak pernah tenggelam.
Warnanya pun tak kalah berani. Tidak putih. Tidak pula satu warna tunggal sebagaimana lazimnya masjid tradisional. Ia dipenuhi warna-warni yang memantul di permukaan air, mencerminkan heterogenitas penduduk Pasangkayu—masyarakat pesisir, petani, pedagang, pendatang dari berbagai latar. Semua tumpah dalam satu bangunan yang seolah berkata: perbedaan bukan alasan untuk menjauh; ia adalah alasan untuk hadir bersama.
Kubahnya mengingatkan saya pada seekor keong—makhluk kecil yang bergerak perlahan namun pasti, meninggalkan jejak yang tidak pernah hilang. Itulah simbol perjuangan: tidak gegas, tidak pula malas, tetapi konsisten menempuh arah. Di sekeliling kubah, obor-obor warna-warni terpancang, seperti nyala semangat yang tak pernah padam melawan keraguan. Menaranya menjulang, meminjam bahasa arsitektur untuk menyampaikan pesan sederhana: cita-cita itu harus tinggi, agar langkah kita punya arah.
Hari ini, saya melangkah masuk untuk Salat Jumat. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang menyusup ke seluruh ruang masjid. Lantai bergetar pelan oleh ritme ombak, membuat jamaah serasa duduk di atas perahu yang sedang dipermainkan gelombang. Tidak mengganggu. Justru memeluk. Seakan laut pun ikut berzikir.
Ketika imam mulai membaca ayat-ayat suci, suara beliau merdu, mendayu—seperti ombak yang perlahan mendekati tepi pantai sebelum pecah menjadi buih. Lantunan itu merambat dari pengeras suara, memantul di dinding warna-warni, lalu tenggelam kembali ke laut seolah dikembalikan kepada Sang Pemilik firman.
Sampailah pada surah Ar-Rahman.
Dan di antara ayat-ayat yang bergema, satu ayat jatuh seperti petir lembut ke dada kami:
“Fabiayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān.”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah lagi yang kamu dustakan?
Ayat itu diulang berkali-kali, sebagaimana lazimnya surah Ar-Rahman. Tetapi di masjid terapung ini, ayat itu seperti memiliki daun dan batang baru: tumbuh dari realitas di hadapan mata.
Di depan kami laut terbentang—nikmat.
Di belakang kami hamparan pasir—nikmat.
Angin yang menyusup dari celah dinding—nikmat.
Gelombang yang menggerakkan lantai masjid—nikmat.
Warna-warni bangunan yang merayakan perbedaan—nikmat.
Sejarah perjuangan yang membangun kabupaten ini—nikmat.
Kesempatan untuk sujud di atas rumah Allah yang terapung—nikmat.
Dan hati saya tersentak oleh kalimat seorang sufi yang pernah saya baca:
“Jangan kau kira nikmat itu selalu berbentuk manis. Kadang ia datang sebagai perjalanan panjang yang membuatmu kuat.”
Bukankah Pasangkayu lahir dari perjuangan? Bukankah peluh para pendiri kabupaten ini juga bagian dari nikmat yang tidak boleh didustakan?
Imam kembali melafalkan ayat tersebut. Kali ini lebih dalam, lebih menyentuh:
“Fabiayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān.”
Ayat itu seperti memanggil seluruh alam. Laut yang berkilau menjawab dengan riaknya. Angin menjawab dengan desirnya. Bahkan masjid terapung ini seakan bergetar, seolah turut menyaksikan betapa nikmat itu memang tidak pernah putus.
Shalat Jumat selesai, tetapi gema ayat itu masih terasa. Di luar, matahari mulai condong. Ombak terus memukul-mukul tiang masjid, seperti mengulang-ulang pesan yang sama: syukur itu bukan sekadar ucapan, tetapi kesediaan untuk melihat dengan hati yang jernih.
Dan saya pun melangkah pergi dengan satu kesadaran:
di dunia yang selalu berubah, ada nikmat yang tidak boleh dilupakan—nikmat menjadi manusia yang terus diajak kembali kepada Tuhannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 weeks ago
6














































