Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Gencatan senjata tidak menutup pintu perang terhadap Iran, melainkan justru membuka pintu pertanyaan selebar-lebarnya.
Para analis mempertanyakan alasan di balik keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memasuki perang, serta tujuan apa yang ingin dicapainya.
Aljazeera mengutip analisis Amerika dan Inggris yang membahas masa pasca-perang, isu ini tidak muncul sebagai perdebatan tentang siapa yang lebih banyak membombardir atau siapa yang lebih banyak menghancurkan, melainkan sebagai ujian apakah Amerika Serikat keluar dari petualangan ini dengan lebih kuat atau lebih lemah.
Dalam ujian ini khususnya, menurut sejumlah pengamat dan peneliti, tampaknya Trump tidak meraih kemenangan, melainkan justru menyeret dirinya dan negaranya ke dalam perang yang tidak perlu, yang lebih banyak merusak wibawa Washington daripada menambahnya.
Dalam diskusi dengan penulis A J Dion, kolumnis The New York Times Carlos Lozada berpendapat bahwa pertanyaan yang tepat mengenai masa pasca-perang bukanlah: Apakah Amerika Serikat menang atau kalah secara militer? Melainkan: Apakah Amerika Serikat menjadi lebih kuat atau lebih lemah?
Di sini, Dion menjawab bahwa hasilnya "sangat negatif", sementara Lozada berpendapat bahwa apa yang terjadi tidak bisa disebut kemenangan, melainkan menunjukkan kegagalan yang nyata, karena pemerintahan AS tidak mencapai tujuan yang mereka tetapkan di awal.
AS tidak berhasil mencegah Iran secara permanen mengembangkan kemampuan nuklirnya, tidak menghancurkan kemampuan rudalnya, dan tidak mendorong rakyat Iran untuk melakukan pemberontakan yang menggulingkan rezim.
Dari sudut pandang inilah, muncullah gagasan perang penyesalan. Lozada menyoroti bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz, yang kemudian menjadi isu mendesak dalam retorika Amerika, sebenarnya bukanlah tujuan awal dilancarkannya perang tersebut.

4 hours ago
2














































