REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi itu, angin Nabire berembus pelan, membawa kesunyian yang tak biasa di sebuah lapangan sederhana di Kalisemen, Nabire Barat. Langit tampak cerah, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar upacara.
Di tengah barisan rapi para peserta, seorang remaja berdiri tegap. Tubuhnya mungkin tak sempurna menurut ukuran manusia, tetapi tekadnya utuh. Dengan satu kaki, ia mengambil posisi sebagai pemimpin upacara Hari Pendidikan Nasional 2026.
Namanya Deki Degei, 16 tahun. Seorang siswa Mepa Boarding School, sekolah milik Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Pada Sabtu pagi itu, ia tidak sekadar berdiri, ia memimpin.
Ketika aba-aba pertama dilantangkan, suasana lapangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada dirinya. Guru, siswa, hingga tamu undangan, termasuk Gubernur Papua Tengah, menyaksikan dengan penuh perhatian.
“Kepada pembina upacara, hormat, grak,” suaranya lantang, tegas, tanpa ragu.
Tak ada getar dalam suaranya. Tak ada goyah dalam sikapnya. Ia memimpin dari awal hingga akhir, seolah tubuhnya telah lama berdamai dengan keterbatasan yang dimilikinya.
Upacara itu memang berbeda. Seluruh petugas berasal dari siswa sekolah luar biasa di Nabire. Namun, di antara semua itu, sosok Deki menjadi pusat makna. Ia bukan sekadar petugas, melainkan simbol hidup dari pendidikan yang inklusif.
Usai upacara, senyumnya tak lepas, meski lelah masih terasa. Ia mengaku tak pernah membayangkan akan berdiri di hadapan begitu banyak orang, terlebih di depan gubernur.
“Saya sangat senang dan bangga. Ini pertama kali saya memimpin upacara,” katanya pelan, dengan mata yang menyimpan haru.
Perjalanan menuju momen itu tidaklah singkat. Ia hanya memiliki beberapa hari untuk berlatih. Setiap detail ia pelajari, dari sikap sempurna, langkah baris-berbaris, hingga pelafalan komando. Rasa takut sempat datang, tetapi ia memilih untuk tidak memberinya ruang. Ketakutan itu ia ubah menjadi latihan. Keraguan ia ganti dengan keyakinan.
sumber : Antara

3 hours ago
2













































