Tonny Rivani
Agama | 2026-08-02 00:12:21
Ketua PBNU dan Ketua Muhammadiyah: Foto Muhammadiyah.or.id.
Kolaborasi Sosial - Keagamaan sebagai Jalan mewujudkan Indonesia Emas
Tidak banyak negara di dunia yang memiliki modal sosial-keagamaan sebesar Indonesia. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki dua organisasi Islam yang telah berusia lebih dari satu abad, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, tetapi institusi peradaban yang telah melahirkan jutaan kader, membangun ribuan lembaga pendidikan, rumah sakit, pesantren, perguruan tinggi, lembaga filantropi, dan berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Dalam menghadapi tantangan abad ke-21—mulai dari revolusi digital, kemiskinan, perubahan iklim, polarisasi politik, krisis moral, hingga kompetisi global—sinergi PBNU dan Muhammadiyah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Kolaborasi keduanya merupakan win solution untuk memperkuat kualitas umat sekaligus memperkokoh masa depan bangsa.
Sejarah menunjukkan bahwa NU dan Muhammadiyah memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengembangkan pendidikan nasional, memperluas layanan kesehatan, serta menanamkan nilai Islam yang damai dan moderat. Perbedaan manhaj dan metode dakwah yang selama ini ada tidak seharusnya dipandang sebagai sumber perpecahan, tetapi sebagai kekayaan intelektual yang saling melengkapi.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan bahwa perbedaan merupakan sunatullah yang harus dikelola menjadi kekuatan sosial. Melalui konsep pribumisasi Islam, Gus Dur menunjukkan bahwa Islam dapat tumbuh harmonis dengan budaya, demokrasi, dan kemajemukan Indonesia. Gagasan tersebut tetap relevan sebagai fondasi etika kolaborasi antarorganisasi Islam.
Demikian pula Prof. Dr. Azyumardi Azra menegaskan bahwa NU dan Muhammadiyah merupakan dua pilar utama Islam moderat (wasathiyah) yang menjadi kekuatan penting bagi demokrasi Indonesia. Menurutnya, keberhasilan Indonesia menjaga harmoni sosial tidak dapat dilepaskan dari kontribusi kedua organisasi tersebut dalam menyebarkan nilai toleransi, pendidikan, dan kebangsaan.
Sementara itu, Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) menekankan bahwa kemajuan umat hanya dapat dicapai melalui keterbukaan berpikir, pembaruan intelektual, dan orientasi pada kemaslahatan bersama. Bagi Cak Nur, kebesaran umat tidak ditentukan oleh simbol-simbol organisasi, melainkan oleh kualitas ilmu pengetahuan, etika, dan kontribusi terhadap kemanusiaan.
Pandangan para cendekiawan tersebut sejalan dengan teori Social Capital yang dikembangkan Robert D. Putnam. Dalam Making Democracy Work (1993), Putnam menjelaskan bahwa kemajuan masyarakat ditentukan oleh tingginya kepercayaan (trust), jaringan sosial, dan budaya kerja sama. Organisasi yang mampu membangun jejaring kolaboratif akan lebih efektif menghasilkan kesejahteraan dibanding organisasi yang berjalan sendiri-sendiri.
Pemikiran Putnam diperkuat oleh Francis Fukuyama dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995). Fukuyama menyatakan bahwa kepercayaan sosial merupakan modal pembangunan yang sama pentingnya dengan modal ekonomi. Bangsa yang masyarakatnya saling percaya lebih mudah membangun inovasi, investasi, dan kesejahteraan.
Dalam perspektif Islam, konsep tersebut telah diajarkan jauh sebelumnya. Allah SWT berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa..." (QS. Al-Mā'idah: 2).
Ayat ini menegaskan bahwa kerja sama dalam kebaikan adalah perintah agama. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang beriman ibarat bangunan yang saling menguatkan. Pesan tersebut menjadi dasar teologis bahwa kolaborasi adalah bagian dari ajaran Islam.
Saat ini NU dan Muhammadiyah memiliki potensi yang sangat besar. Keduanya mengelola ribuan sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, dan organisasi kepemudaan. Potensi sumber daya manusia yang dimiliki mencapai puluhan juta warga. Apabila kekuatan tersebut disinergikan dalam program nasional pemberdayaan umat, dampaknya akan sangat signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan karakter masyarakat.
Dalam konteks pembangunan nasional, sinergi tersebut dapat diwujudkan melalui lima agenda strategis.
Pertama, kolaborasi pendidikan. Perguruan tinggi NU dan Muhammadiyah dapat membangun pusat riset bersama mengenai kecerdasan buatan (AI), ekonomi syariah, energi terbarukan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan transformasi digital.
Kedua, penguatan ekonomi umat melalui integrasi program koperasi, BMT, zakat produktif, wakaf produktif, inkubasi UMKM, dan kewirausahaan muda.
Ketiga, literasi digital dan penguatan moderasi beragama. Di tengah derasnya arus informasi, kedua organisasi dapat menjadi pelopor pendidikan literasi digital yang mendorong masyarakat kritis terhadap hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda ekstremisme.
Keempat, pelayanan kesehatan dan kemanusiaan. Jaringan rumah sakit, klinik, relawan kebencanaan, dan lembaga filantropi dapat diperkuat melalui mekanisme koordinasi nasional sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin cepat dan efektif.
Kelima, diplomasi Islam Indonesia di tingkat global. Dunia membutuhkan model Islam yang damai, demokratis, inklusif, dan menghargai keberagaman. NU dan Muhammadiyah memiliki legitimasi moral untuk menjadi duta peradaban Islam Indonesia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya menghadirkan Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan kemaslahatan universal. Sementara Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengangkat gagasan tentang membangun tatanan dunia yang damai melalui nilai-nilai kemanusiaan universal. Kedua visi tersebut sesungguhnya memiliki titik temu yang kuat: menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sinergi PBNU dan Muhammadiyah tidak berarti menghapus identitas masing-masing. NU tetap kokoh dengan tradisi pesantren dan dakwah kulturalnya, sedangkan Muhammadiyah tetap konsisten dengan gerakan tajdid, pendidikan modern, dan pelayanan sosial. Perbedaan ini justru merupakan kekuatan komplementer yang apabila dipadukan akan menghasilkan inovasi sosial yang lebih besar.
Indonesia tengah memasuki fase penting menuju Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan karakter, serta pembangunan ekonomi yang inklusif. Dalam konteks ini, NU dan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi lokomotif perubahan sosial.
Sudah saatnya energi umat diarahkan bukan untuk memperbesar perbedaan, melainkan memperluas titik temu. Yang dibutuhkan bukan kompetisi antarorganisasi, tetapi kompetisi dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sebab, ukuran kebesaran organisasi bukanlah banyaknya pengikut, melainkan besarnya kontribusi bagi kemanusiaan.
Ketika PBNU dan Muhammadiyah bersinergi, yang memperoleh manfaat bukan hanya umat Islam, tetapi seluruh rakyat Indonesia. Dari sinilah akan lahir masyarakat yang religius, moderat, cerdas, sehat, produktif, dan berdaya saing global. Inilah win solution yang sesungguhnya: menyatukan kekuatan, memperluas kemaslahatan, dan membangun peradaban Indonesia yang berkeadaban.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

5 hours ago
2








































