RI Masuk Tiga Besar Ekonomi Syariah Global, tapi Masih Lebih Banyak Mengimpor

1 day ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia menempati peringkat tiga besar negara dengan ekosistem ekonomi syariah dunia. Namun, posisi tersebut masih lebih ditopang oleh besarnya konsumsi masyarakat, bukan oleh kekuatan produksi dan ekspor.

Kondisi tersebut membuat Indonesia lebih banyak berperan sebagai pasar produk halal global ketimbang pemain utama di sektor hulu. “Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 menempatkan Indonesia dalam jajaran tiga besar negara dengan ekosistem ekonomi Islam global. Akan tetapi, posisi ini lebih banyak ditopang dari sisi konsumsi, bukan produksi,” kata Penasihat Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, A. Hakam Naja, dalam Diskusi Resolusi RUU Ekonomi Syariah 2026: Arah Kebijakan dan Tantangan Implementasi yang digelar secara daring, Jumat (30/1/2026).

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja perdagangan Indonesia dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Indonesia masih menjadi importir utama produk dari negara OKI, sementara kinerja ekspor belum optimal.

“Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara importir terbesar di antara negara-negara OKI dengan nilai 29,64 miliar dolar AS. Sebaliknya, Indonesia berada di peringkat kesembilan sebagai eksportir terbesar ke negara-negara OKI dengan nilai 12,33 miliar dolar AS pada 2023,” ujar Hakam.

Padahal, potensi ekonomi halal nasional dinilai sangat besar. Nilai potensi transaksi perdagangan berbasis halal Indonesia mencapai 170,6 miliar dolar AS. Namun, realisasi ekspor halal pada 2024 baru tercatat sebesar 41,4 miliar dolar AS, dengan dominasi komoditas makanan, fesyen, kosmetik, dan farmasi.

Dari sisi domestik, kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Kontribusi ekonomi syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan melampaui 47,30 persen pada akhir 2024. Meski demikian, akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah masih terbatas.

“Literasi keuangan syariah tercatat sebesar 46,17 persen, sedangkan inklusi tercatat 13,41 persen,” kata Hakam.

Menurut dia, ketimpangan tersebut menunjukkan ekosistem ekonomi syariah nasional belum berjalan secara selaras. Sektor riil justru tumbuh lebih cepat, sementara sektor keuangan syariah yang semestinya menjadi penopang utama masih tertinggal.

Hakam menekankan pentingnya integrasi pembiayaan syariah, penguatan UMKM, digitalisasi layanan, serta optimalisasi zakat dan wakaf produktif agar ekonomi syariah Indonesia tidak hanya besar dari sisi konsumsi, tetapi juga kuat di sisi produksi dan ekspor.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |