Remaja Indonesia tak Serapuh Itu, Eksperimen Buktikan Empati Bisa Ditingkatkan dalam 10 Hari

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Remaja Indonesia saat ini kerap digambarkan sebagai generasi yang rapuh dan rentan gangguan mental. Namun, sebuah eksperimen sosial berbasis sekolah justru menunjukkan temuan sebaliknya. Ternyata remaja Indonesia memiliki modal prososial dan sikap empati yang sangat kuat dan bisa dibentuk secara signifikan melalui intervensi sederhana di lingkungan sekolah.

Program Cek Teman Sebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman”, yang diinisiasi oleh Health Collaborative Center (HCC), dengan Ketua Tim Eksperimen sekaligus Ketua HCC Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH bersama Direktur Eksekutif HCC Bunga Pelangi, MKM, mmembuktikan perilaku melaporkan kebaikan teman (tootling) secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati dan sikap prososial remaja secara signifikan.

Menurut Ray, dalam intervensi yang melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta, dengan 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari, dibuktikan remaja pelajar SMA yang terlibat aktif dalam pelaporan kebaikan menunjukkan lima kali lebih empati dan lima kali lebih prososial. Serta hampir 4 kali lebih tinggi perspective-taking atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain.

Dikutip dari siaran pers, Kamis (5/3/2026), dr Ray mengungkapkan intervensi eksperimen sosial ini sebenarnya terinspirasi dari metode tootling. Atau melaporkan kebaikan dan tindakan positif teman sebaya selama di sekolah. Di beberapa negara maju metode ini bahkan menjadi bagian dari pendidikan karakter berbasis kurikulum dasar.

“Di akhir eksperimen ini terdapat 4.710 laporan kebaikan terkumpul hanya dalam 10 hari, artinya ada daya multiplikasi 10 kali lipat dalam satu intervensi sederhana. Bahkan delapan dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program. Mereka yang aktif melaporkan kebaikan memiliki 11 kali peluang lebih besar merasakan perubahan positif”, ujar Ray.

Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sederhana berupa 'melaporkan kebaikan teman' mampu memperkuat fondasi psikologis remaja dalam waktu singkat. Fakta dan temuan menarik lainnya, menurutnya, praktik ini membuat 77 persen siswa melaporkan kebaikan sebagai bentuk mengucapkan terima kasih.

Kemudian 71 persen sebagai bentuk apresiasi, 50 persen sebagai balasan kebaikan, 41 persen untuk menginspirasi teman lain, dan 34 agar kebaikan diketahui publik. Menariknya, siswa perempuan memiliki peluang 34 kali lebih besar melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan kepada siswa laki-laki. Hal ini menunjukkan dinamika sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi selanjutnya.

Program ini mengukur enam aspek emosional remaja (termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, dan prososial), serta aspek empati menggunakan Interpersonal Reactivity Index. Menurut Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas yang juga elaborator eksklusif eksperimen sosial ini, Sulastry pardede, Psi, hasilnya menunjukkan bahwa perilaku prososial yang dilatih melalui tootling Cek Teman Sebelah ini meningkatkan empati dan solidaritas. "Juga mengurangi rasa ketidaknyamanan diri, membentuk reaksi sosial positif, dan memperkuat hubungan antar teman sebaya," katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |