
Oleh: Nasir Tajang, Da’i Hijau
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rahmatan lil ‘alamin adalah konsep dan kalimat dari firman Allah SWT yang terdapat dalam Alquran Surat Al-Anbiya ayat 107: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya:107)
Kalimat "rahmatan lil alamin" berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas dua kata utama yaitu rahmatan yang memiliki arti kasih sayang, anugerah, atau kebaikan. Kata kedua, Lil 'Alamin memiliki arti untuk seluruh alam semesta (mencakup manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan).
Rahmatan lil alamin merupakan konsep yang menegaskan ajaran Islam hadir untuk membawa kedamaian, keselamatan, kebaikan, toleransi, dan keadilan bagi seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Wujud nyata perilaku rahmatan lil alamin adalah saling menghargai, saling tolong menolong, mengedepankan kepentingan bersama, tidak mengorbankan kepentingan jangka panjang demi mengejar kuntungan besar sesaat, tidak merugikan pihak lain, dan saling melindungi dan mengayomi. Demikian beberapa perilaku dari rahmatan lil alamin.
Konsep rahmatan lil alamin dalam konteks manusia, sebagai khalifah fil ardh adalah manusia memiliki tanggung jawab menebarkan kasih sayang, kedamaian, keadilan, melindungi hak asasi, kemaslahatan, serta mencegah kezaliman, penindasan, serta kesewenang-wenangan di muka bumi tanpa melihat latar belakang ekonomi, etnis, suku, ras, golongan dan agama.
Terhadap lingkungan, ia menjaga kelestarian alam, mencegah kerusakan, dan mengelola sumber daya bumi secara bijak agar dapat dinikmati seluruh makhluk di bumi dan generasi mendatang. Selain itu, mengelola sumber daya alam secara seimbang agar terhindar dari bencana dan kerusakan.
Terhadap hewan, ia memberi makan dan minum layak, memberikan beban hewan atau ternak dengan wajar (tidak membebani di luar batas kemampuannya). Ia juga diharamkan menyiksa dan merusak habitatnya.
Kepada tumbuhan manusia dilarang menebang pohon sembarangan, terutama di hutan atau yang memberi manfaat untuk manusia dan hewan sebagai bahan makanan atau tempat berlindung.
Jadi konsep rahmatan lil alamin bersifat holistik yang mencakup seluruh dimensi kehidupan secara menyeluruh. Kasih sayang yang diajarkan tidak terbatas pada manusia, melainkan juga mencakup pelestarian alam dan lingkungan. Menyeimbangkan habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan antarmanusia) serta hubungan dengan alam sekitar.
Konsep Rahmatan lil alamin juga bersifat dinamis dan relevan di segala zaman dan sepanjang masa. Nilai Rahmatan lil alamin tidak lekang oleh waktu. Ia hadir dan berada pada hati yang suci bersih, dan berpusat pada nilai-nilai moral yang tinggi dan hakiki, serta dapat diimplementasikan secara praktis dalam berbagai profesi.
Kalau kita tarik dalam implementasi dalam profesi sifat rahmatan lil ‘alamain dapat dijelaskan dan diberikan contoh. Jika Anda berprofesi sebagai guru yang rahmatan lil alamin, Anda akan mendidik dengan kesabaran, keikhlasan, dan tanpa pilih kasih.
Mengajar tidak hanya mentransfer ilmu, juga membentuk karakter moral peserta didik agar kelak membawa manfaat bagi manusia dan alam semesta.
Jika Anda seorang birokrat, politsi, hakim dan polisi yang rahmatan lil alamin, maka akan menjalankan amanah dengan adil, melindungi hak-hak rakyat, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Kebijakan yang dibuat berorientasi pada kepentingan rakyat.
Jika Anda seorang pengusaha dan pedagang, maka akan menjalankan usaha dengan jujur, tidak melakukan penipuan, monopoli yang merugikan orang lain. Keuntungan yang diperoleh diiringi kepedulian sosial dan membantu yang lemah. Menjaga kelestarian alam dan tidak melakukan eksploitasi atau pencemaran.
Adapun penerapan konsep rahmatan lil alamin ini dalam menghadapi krisis lingkungan yang sudah sangat parah ini melalui penerapan prinsip kasih sayang untuk semesta. Menghentikan segala bentuk pengrusakan, eksploitasi berlebihan, atau pencemaran.
Mengerahkan segala kemampuan mengembalikan keseimbangan dan harmoni alam raya ini. Menggunakan sumber daya alam dengan hemat, bijak dan efisien seperti air, energi, dan sumber daya alam lainnya.
Melakukan aksi nyata yang konsisten dan berkelanjutan dalam pelestarian lingkungan seperti reboisasi (menanam pohon) dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari bentuk ibadah sehari-hari dan dijadikan sebagai habit.
Demikian beberapa penjelasan tentang konsep rahmatan lil alamin yang menjadi menjadi fondasi dan nilai bagi orang Islam dalam melaksankan segala aktifitas yang berhubungan dengan seluruh jagat raya ini.
Namun saat ini ada fenomena yang akrab kita dengar dengan istilah serakahnomic.
Istilah serakahnomic adalah penyebutan untuk menggambarkan praktik ekonomi curang dan manipulatif yang mementingkan keuntungan pribadi secara berlebihan hingga menyengsarakan rakyat.
Istilah ini sebagai sindiran terhadap perilaku elite yang merampok sumber daya negara dan mengeksploitasi kekayaan negara oleh elite kekuasaan dan oligarki yang mengabaikan agama, moralitas dan lingkungan hidup.
Secara filosofis, serakahnomic jelas sangat bertentangan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin. Ajaran rahmatan lil alamin berlandaskan kasih sayang, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh alam. Melarang keras perusakan bumi (fasad fil ardhi).
Mengelola alam dengan penuh tanggung jawab, menjaga kelestarian hutan, air, dan makhluk hidup lainnya agar manfaatnya dapat dinikmati seluruh ekosistem. Sebaliknya, serakahnomic berorientasi pada keserakahan, eksploitasi alam yang berlebihan, merusakan alam dan kapitalisme ekstrem yang hanya menguntungkan peribdi dan segelintir orang tentu.
Bahkan serakahnomic bertentangan dengan amanat konstitusi negara kita yang termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945,’’Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan cabang-cabang produksi yang penting negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.
Kalau konsep rahmatan lil alamin kita jadikan fondasi moral bangsa Indonesia dan menjadi nilai dalam mengisi kemerdekaan, maka akan memberikan perlawanan dan mampu mengalahkan serakahnomic.
Namun satu hal yang tidak bisa kita abaikan adalah peran sentral kekuasaan dan elite politik. Jika kekuasaan dan elite politik tidak berpihak kepada konsep rahmatan lil ‘alamin, maka praktik serakahnomic akan melenggang kangkung mulus tanpa hambatan. Selanjutnya kita tinggal menunggu bencana yang akan menghabisi.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

9 hours ago
10













































