REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jumlah korban tewas akibat gempa bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026) mencapai 294 orang. Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana (UNGRD) Kolombia juga mencatat 3.935 orang mengalami luka-luka dan 320 orang masih dinyatakan hilang.
"Jumlah korban tewas mencapai 294 orang dan korban luka-luka sebanyak 3.935 orang," kata otoritas setempat melalui pernyataan di platform X, dikutip Sputnik, Ahad (16/8/2026).
Angka tersebut merupakan pembaruan dari laporan sebelumnya yang mencatat 285 korban tewas dan 3.975 orang terluka. Sementara itu, sebanyak 353 orang berhasil diselamatkan.
Pusat gempa berada di dekat wilayah San Jose del Palmar, Departemen Choco, dengan getaran dirasakan di sebagian besar wilayah Kolombia dan negara-negara tetangga.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi secara konstitusional untuk menangani dampak bencana tersebut. Pemerintah juga membentuk dana khusus yang akan digunakan untuk membiayai proses pemulihan di wilayah terdampak.
Berdasarkan data terbaru, gempa merusak 53.526 rumah dan menyebabkan 140 bangunan runtuh. Selain itu, sebanyak 1.819 lembaga pendidikan, 631 pusat kegiatan masyarakat, dan 179 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur transportasi dan layanan dasar. Satu jembatan penyeberangan orang hancur, sementara 20 jembatan jalan raya, 203 ruas jalan, 44 sistem pasokan air bersih, dan lima bandara mengalami kerusakan.
"Ini tanpa keraguan merupakan tragedi yang sangat besar," kata de la Espriella. Ia menegaskan prioritas pemerintah saat ini adalah memberikan bantuan kepada korban luka serta melakukan rekonstruksi wilayah yang hancur akibat gempa.
Status darurat ekonomi memungkinkan pemerintah membentuk dana khusus untuk menampung dan menyalurkan bantuan nasional maupun internasional. Dana tersebut akan diarahkan untuk memperbaiki rumah sakit, sekolah, pemukiman warga, akses jalan, dan bandara. Pemerintah juga menyiapkan paket bantuan ekonomi sementara bagi para korban, termasuk penanggungan tagihan listrik dan air, subsidi sewa rumah, insentif pajak dan keuangan, bantuan tunai langsung, serta dukungan bagi pelaku usaha kecil dan pedagang lokal.
Di tengah upaya pemulihan, Kolombia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan yang meluas. Sebanyak 344 kota ditetapkan berstatus siaga merah akibat kebakaran yang dipicu cuaca panas ekstrem dan kondisi kering. Pada Jumat (14/8/2026), puluhan titik kebakaran masih aktif, terutama di Tolima, Cesar, Norte de Santander, Antioquia, Narino, dan Santander.
Luas vegetasi, lahan pertanian, dan pemukiman yang hancur akibat kebakaran telah melampaui 11.000 hektare. Pemerintah mengerahkan petugas pemadam kebakaran, unit militer, personel darurat, dan bantuan udara, meski menghadapi keterbatasan personel. Kondisi ini semakin berat karena Institut Hidrologi, Meteorologi, dan Studi Lingkungan (IDEAM) memperkirakan probabilitas 90 persen fenomena El Nino akan berlanjut hingga awal 2027.
Situasi tanggap darurat semakin kompleks setelah badan manajemen risiko nasional turut memantau peningkatan aktivitas Gunung Api Purace di Cauca. Dengan berbagai ancaman bencana yang muncul secara bersamaan, tim tanggap darurat Kolombia kini harus bekerja dengan kapasitas maksimal untuk menangani dampak gempa sekaligus kebakaran hutan dan potensi aktivitas gunung api.
sumber : Antara

4 hours ago
6













































