KEMENTERIAN Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi pada Januari—Maret 2026 mencapai Rp 498,8 triliun. Angka ini meningkat 7,2 persen dibandingkan capaian kuartal pertama 2025 lalu yakni Rp 465,2 triliun.
“Target investasi pada triwulan pertama 2026 alhamdulillah tercapai,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal BKPM, Rosan Roeslani, dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Rosan mengatakan capaian tersebut mengisi sekitar 24,4 persen terhadap target investasi sepanjang tahun ini yakni Rp 2.041,3 triliun. Capaian investasi pada kuartal pertama berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebanyak 706.569 orang.
Adapun sumber penanam modal terbesar pada kuartal pertama berasal dari investor asing dengan nilai Rp 250 triliun, yang berkontribusi 50,1 persen terhadap total investasi. Sementara realisasi penanaman modal asing (PMA) kuartal pertama meningkat 8,5 persen secara tahunan. “Penanaman modal asing dan dalam negeri hampir sama walaupun modal asing sedikit di atas."
Menurut Rosan, peningkatan PMA terjadi karena investor asing menilai pemerintah bisa menjaga selalu stabilitas politik dan stabilitas ekonomi pada kuartal pertama. Selain itu, para investor asing merespons positif kebijakan investasi di Indonesia.
Adapun Singapura menjadi negara asal investor dengan jumlah penanaman modal terbanyak di Indonesia. Nilai investasi dari Singapura ke Indonesia pada kuartal pertama mencapai US$ 4,6 miliar. Hong Kong berada di posisi kedua dengan nilai investasi ke Indonesia sebesar US$ 2,7 miliar.
Adapun Cina berada di posisi ketiga dengan investasi US$ 2,2 miliar. Setelah itu disusul Malaysia dengan US$ 1,3 miliar. Terakhir adalah Jepang senilai US$ 1 miliar.
Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 248,8 triliun atau berkontribusi 49,9 persen terhadap total realisasi investasi kuartal pertama. Nilai PMDN meningkat 6 persen secara tahunan.
Investasi dari dalam negeri pada kuartal pertama utamanya disumbang oleh luar Jawa dengan nilai Rp 251,3 triliun. Angka itu naik hingga 6,5 persen secara tahunan. Sementara, PMDN di Jawa pada kuartal pertama tercatat sebesar Rp 247,5 triliun atau meningkat 7,9 persen secara tahunan.















































