Proyek Sampah Jadi Listrik Digenjot, Danantara Alokasikan Hingga Rp2,8 Triliun per Lokasi

4 days ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Danantara Investment Management menyiapkan investasi besar untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste-to-energy (WTE) di sejumlah kota di Indonesia, sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan krisis sampah nasional.

Lead of Waste-to-Energy sekaligus Director of Investment perusahaan tersebut, Fadli Rahman, mengatakan nilai investasi untuk satu proyek PSEL berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun, tergantung kapasitas fasilitas yang dibangun.

“Investasinya itu berkisar antara Rp2,5 sampai Rp2,8 triliun. Karena kapasitasnya cukup besar di beberapa lokasi, investasinya bisa mencapai Rp2,8 triliun,” ujar Fadli dalam Coffee Session dengan media, Kamis (6/4/2026).

Ia menjelaskan struktur kepemilikan proyek akan terdiri atas 70 persen mitra dan 30 persen Danantara. Kerja sama ini dijalankan bersama entitas baru bernama Daya Energi Bersih Nusantara, yang dibentuk pada 1 April 2026 untuk mengelola seluruh proyek PSEL di bawah Danantara.

Dalam implementasinya, masing-masing proyek akan memiliki satu special purpose vehicle (SPV) atau badan usaha pelaksana (BUP). Sejumlah lokasi yang tengah disiapkan antara lain Denpasar atau Badung di Bali, Bogor dan Bekasi di Jawa Barat. Selain itu, proyek di Yogyakarta masih dalam tahap pemilihan mitra untuk pengembangan tahap berikutnya.

Pendanaan proyek ini mengandalkan skema campuran dengan porsi utang mencapai sekitar 70 persen. Fadli menegaskan investasi ini masuk dalam kategori foreign direct investment (FDI), sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap iklim investasi di Indonesia.

“Jatuhnya jadi penanaman modal asing di Indonesia, yang bagus untuk iklim investasi di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, proses pemilihan mitra, khususnya untuk proyek di Yogyakarta, sangat mempertimbangkan kecepatan pembangunan. Hal ini mengingat urgensi persoalan sampah yang harus segera ditangani.

“Yang paling penting adalah dari segi timeline. Karena urgensi dari masalah sampah di Jogja, kita tidak mau memilih mitra yang proses bangunnya sangat lama,” ujarnya.

Selain pembangunan fasilitas, Danantara juga akan mendorong peningkatan tingkat pengumpulan sampah (collection rate) di daerah-daerah lokasi investasi. Namun, Fadli menekankan investasi hanya dapat dilakukan pada wilayah yang memiliki kapasitas sampah minimal 1.000 ton per hari, sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

“Bagi daerah yang koleksi sampahnya tidak di atas 1.000 ton, maka kita tidak diperbolehkan melakukan investasi tersebut. Jadi, pemdanya harus komit, harus siap,” katanya.

Ia menegaskan seluruh proyek harus memenuhi aspek kelayakan secara komersial, teknis, finansial, serta manajemen risiko sebelum dapat dijalankan. Hal ini menjadi prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |