Ketua Dewan Penasihat Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Nila Moeloek, dan Executive Director IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi dalam diskusi media di kawasan Kuningan, Jumat (2/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan telah dimanfaatkan oleh 70 juta warga sejak resmi diluncurkan pada 10 Februari 2025. Meski menggembirakan, namun hal ini menunjukkan masih adanya tantangan karena lebih dari 210 juta warga belum memanfaatkan program tersebut.
Untuk mendorong partisipasi CKG, Ketua Dewan Penasihat Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Nila Moeloek, menyarankan agar pemerintah menerapkan strategi "jemput bola". Menurutnya, hal ini bisa menjadi solusi bagi sebagian besar masyarakat yang masih enggan dan takut melakukan deteksi dini atau pemeriksaan kesehatan rutin.
"Kalau hanya mengandalkan momentum ulang tahun atau kegiatan sekolah, belum tentu masyarakat mau ikut cek kesehatan. Jadi mungkin perlu jemput bola itu. Harapannya bisa semakin optimal deteksi dininya," kata Prof Nila dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jumat (2/1/2026).
Executive Director IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi menekankan perlunya strategi berbasis komunitas. Saat ini, CKG lebih banyak digelar di puskesmas atau bertepatan dengan momen tertentu. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas terbukti efektif di sejumlah negara maju.
"Coba diturunkan strateginya hingga ke posyandu, posbindu, dan komunitas masyarakat lainnya seperti arisan atau pengajian. Tingkat partisipasi pasti akan naik jika masyarakat dijangkau di lingkungannya sendiri," kata Dr Ray.
la juga menekankan pentingnya narasi dan tindak lanjut setelah pemeriksaan. Menurutnya, masyarakat perlu diberikan arahan konkret, baik untuk yang sehat maupun yang terdiagnosis penyakit tertentu. Sebagai contoh, masyarakat yang sehat tetap perlu menjaga gaya hidup sehat melalui olahraga teratur, sementara yang terdeteksi anemia atau hipertensi memerlukan protokol terapi lanjutan.
"Follow-up adalah kunci. Bagi yang sehat, harus ada protokol untuk mempertahankan kesehatannya. Bagi yang sakit, harus ada jalur rujukan dan terapi yang jelas. Hal ini perlu dirancang secara sistematis agar program CKG benar-benar berdampak," kata Dr Ray.

2 hours ago
2














































