REPUBLIKA.CO.ID, CEUTA -- Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan dan petugas polisi tambahan ke wilayah kantong mereka di perbatasan Afrika Utara, Ceuta. Pengerahan pasukan dilakukan setelah ribuan orang berenang dan berjalan kaki memasuki wilayah kecil itu yang juga negara tetangga Maroko hanya dalam beberapa jam.
Video yang diambil di pantai Tarajal pada Kamis menunjukkan kerumunan orang berjalan di sekitar pemecah gelombang dan berlari di pantai dan jalan raya.
Sebagian besar tampak adalah pria muda, tetapi ada juga keluarga dengan wanita dan anak-anak. “Viva España!” teriak beberapa orang kepada seorang fotografer lepas yang bekerja untuk Associated Press, yang sedang merekam adegan tersebut.
Seorang juru bicara pasukan Guardia Civil, yang menjaga perbatasan Spanyol, mengatakan para migran masuk secara besar-besaran dari laut melalui pemecah gelombang Tarajal. Ia tidak dapat memberikan perkiraan jumlahnya.
Pada Kamis malam, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengumumkan bahwa 60 anggota angkatan bersenjata akan dikerahkan ke Ceuta, bersama dengan 30 petugas Guardia Civil tambahan.
“Angkatan bersenjata akan memperkuat Guardia Civil dalam menjalankan wewenangnya dan wewenang lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan di kota Ceuta,” kata kementerian tersebut dilansir the Guardian.
Namun, kementerian menolak seruan untuk deklarasi keadaan darurat nasional. Mereka mengatakan bahwa keadaan darurat semacam itu tidak dapat dideklarasikan terkait masalah migrasi. Daurat nasional hanya dapat dideklarasikan sebagai respons terhadap peristiwa meteorologi yang buruk – seperti kebakaran hutan saat ini – atau dalam menghadapi ancaman gunung berapi atau nuklir.
Sánchez mengatakan pemerintahnya akan memberikan “tanggapan segera” terhadap situasi di Ceuta, yang mengingatkan pada krisis perbatasan 2021 ketika lebih dari 8.000 orang tiba hanya dalam dua hari.
“Kami memobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, bekerja sama dengan otoritas Maroko dan internasional, dan mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan normal sesegera mungkin,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
“Saya baru saja menyampaikan hal ini kepada Presiden Vivas. Ini adalah saatnya untuk membangun solusi, dengan tanggung jawab dan kerja sama.”
Ceuta dan wilayah Afrika Utara Spanyol lainnya, Melilla, membentuk satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Kedua kota tersebut secara berkala mengalami kerumunan calon migran yang mencoba mencapai Eropa.
Stasiun televisi nasional Spanyol, TVE, melaporkan bahwa antara 2.000 dan 3.000 orang telah menyeberang ke Ceuta. Sementara kantor berita negara, Efe, mengatakan beberapa orang telah memasuki wilayah tersebut dengan memanjat pagar perbatasan yang tinggi.
Efe juga melaporkan bahwa otoritas Maroko dengan perlengkapan anti huru hara menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan orang-orang di dekat perbatasan.
“Situasinya benar-benar kacau,” kata Rachid Sbihi, kepala asosiasi yang mewakili petugas Guardia Civil di Ceuta.

16 hours ago
6














































