REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menjelaskan kepada publik perihal kegagalan tim Indonesia dalam ajang Piala Thomas 2026 di Denmark. PBSI mengakui hasil tersebut mengecewakan publik sekaligus menjadi bahan evaluasi besar untuk pembinaan bulu tangkis nasional ke depan.
Dalam konferensi pers evaluasi yang digelar di Jakarta, jajaran pengurus PBSI menegaskan mereka memahami tingginya ekspektasi masyarakat terhadap bulu tangkis Indonesia, terutama di ajang beregu putra yang memiliki sejarah panjang prestasi. “Kami memahami harapan masyarakat terhadap prestasi bulu tangkis Indonesia terlalu besar,” ujar Wakil Ketua Umum I PP PBSI Taufik Hidayat di Pelatnas PBSI Cipayung, Rabu (9/5/2026).
Taufik juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas hasil yang tidak sesuai harapan. Namun ia menegaskan evaluasi dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya kepada atlet, melainkan juga pelatih, tim pendukung, hingga sistem persiapan yang dijalankan menjelang turnamen.
Evaluasi tersebut disebut dilakukan dalam rapat panjang yang melibatkan pelatih teknik, tim fisik, psikolog, dokter, ahli nutrisi, hingga tim analisis pertandingan.
Ia menilai persoalan terbesar tim Indonesia di Denmark bukan hanya aspek teknis, melainkan juga mental bertanding. Tekanan besar untuk menyumbang poin dalam pertandingan beregu dinilai membuat sejumlah pemain gagal mengeluarkan performa terbaiknya di lapangan.
“Faktor utamanya pressure. Anak-anak berpikir harus menyumbang poin untuk tim, tapi justru itu menjadi tekanan,” ujar Taufik.
Mereka mengungkapkan beberapa pemain muda mengalami ketegangan tinggi saat pertandingan berlangsung, meski secara persiapan sudah dinilai siap tampil.
Kekalahan dari Prancis menjadi salah satu sorotan utama publik. Namun PBSI meminta hasil tersebut dilihat secara realistis berdasarkan ranking dunia dan catatan pertemuan pemain, baik di tunggal maupun ganda. “Secara ranking dan head to head, memang posisi tunggal putra kita di bawah mereka. Jadi jangan hanya melihat nama besar Indonesia,” kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian.
Ia juga menjelaskan proses regenerasi tidak bisa dilakukan secara instan. Sejumlah pemain muda seperti Alwi Farhan dan pemain generasi baru lainnya disebut masih menjalani tahapan pengumpulan poin dan pengalaman bertanding dari level bawah sebelum bisa bersaing di turnamen elite dunia.
Untuk itu, PBSI menyiapkan program akselerasi pembinaan guna mempercepat peningkatan kualitas pemain muda agar bisa lekas bersaing di level elite dunia. Program tersebut mencakup peningkatan teknik, fisik, mental, hingga manajemen pertandingan melalui pengiriman atlet ke lebih banyak turnamen level internasional.
“Yang perlu ditingkatkan dulu adalah kualitas. Dari teknik, fisik, sampai bagaimana mereka menghadapi tekanan pertandingan,” ujar dia.
Eng Hian mengatakan, proses pembentukan atlet juara membutuhkan waktu dan pengalaman bertanding yang konsisten.
Di tengah evaluasi tim putra, PBSI juga memberi apresiasi terhadap pencapaian tim Uber Indonesia yang mampu tampil sebagai juara grup sebelum akhirnya tersingkir di fase gugur. PBSI menilai sektor putri mulai menunjukkan perkembangan positif dengan munculnya sejumlah pemain muda potensial.
Ke depan, PBSI menargetkan evaluasi kegagalan di Denmark menjadi pijakan untuk menghadapi agenda besar berikutnya, termasuk turnamen beregu dan persiapan menuju Asian Games. “Kekalahan ini harus menjadi pelajaran berharga untuk bangkit dan berkembang menjadi lebih kuat,” kata Taufik.

3 hours ago
2

















































