Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dewan Keamanan PBB gagal mengadopsi rancangan resolusi yang menyerukan langkah-langkah pertahanan terkoordinasi guna memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, Selasa (7/4/2026). Rusia dan China memveto draf resolusi tersebut.
Dalam proses pemungutan suara, rancangan resolusi yang diusulkan Bahrain tersebut didukung 11 negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis. Dua negara, yakni Kolombia dan Pakistan, memilih abstain
Seusai voting, Menteri Luar Negeri (Menlu) Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayan mengutarakan kekecewaannya atas kegagalan Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang disusun negaranya. "Dewan gagal memikul tanggung jawabnya terkait dengan tindakan ilegal yang membutuhkan tindakan tegas tanpa penundaan," ujarnya, dikutip Anadolu.
Saat ini Bahrain diketahui tengah memegang kursi kepresidenan Dewan Keamanan PBB. Rancangan resolusi yang disusun Bahrain terkait Selat Hormuz menyerukan sejumlah hal.
Draf tersebut mendorong negara-negara "mengoordinasikan upaya, yang bersifat defensif, sesuai dengan keadaan, untuk berkontribusi dalam memastikan keselamatan dan keamanan navigasi di Selat Hormuz, termasuk melalui pengawalan kapal dagang dan komersial, dan untuk mencegah upaya menutup, menghalangi, atau mengganggu navigasi internasional melalui Selat Hormuz".
Selain itu, draf resolusi juga meminta agar upaya koordinasi anggota Dewan Keamanan bersifat "defensif," dan mengambil "semua tindakan yang tepat" guna memastikan kegiatan mereka "dilakukan sepenuhnya sesuai dengan hukum humaniter internasional".
Draf yang disusun Bahrain juga menyerukan untuk "memperhatikan hak dan kebebasan navigasi" negara-negara pihak ketiga, dengan tujuan untuk memastikan "lintasan yang tidak terhambat dan tanpa hambatan melalui Selat Hormuz".
Sebagai respons atas agresi yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, Iran memutuskan membatasi secara ketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Tindakan tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global diketahui melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

1 week ago
4















































