
Oleh : Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia; Ketua Umum Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Memori saya kembali ke April 2006, sembilan belas tahun silam. Saat itu saya diundang ke Pondok Modern Darussalam Gontor dalam sebuah seminar yang membahas persiapan pendirian universitas, sebuah ikhtiar besar yang bertepatan dengan peringatan 80 tahun Gontor. Undangan itu sejatinya ditujukan kepada Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) kala itu. Saya, yang baru terpilih sebagai dekan dan belum memegang mandat resmi, diutus oleh dekan petahana untuk mewakili.
Itulah kunjungan pertama saya ke Gontor. Di forum tersebut, saya berbagi pandangan tentang peluang pendirian Program Studi Informatika. Saya merasa seperti anak ingusan di tengah para tokoh pendidikan Islam nasional. Salah satu di antaranya adalah Dr Amal Fathullah Zarkasyi, MA, yang kelak saya kenal sebagai Prof Amal. Perjumpaan itu singkat, namun kesan intelektualnya tinggal lama.
Waktu membuktikan bahwa gagasan yang kala itu didiskusikan dengan penuh kehati-hatian akhirnya menemukan bentuknya. Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) resmi berdiri pada 2014, dan Prof Amal menjadi rektor pertamanya. Ia bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan sosok kunci di balik lahir dan tumbuhnya universitas berbasis pesantren tersebut.
Perjumpaan kami berikutnya terjadi pada 2018, di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dalam forum Musyawarah Nasional Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) dan beberapa pertemuan terbatas lainnya. Prof Amal merupakan salah satu penasehat BKSPTIS.
Sejujurnya, saya tidak terlalu sering bertatap muka langsung dengan Prof Amal. Namun justru di situlah kekuatan kesan personal itu terbentuk. Pembawaannya santun, tutur katanya tenang, dan caranya menghargai lawan bicara membuat setiap percakapan terasa bermakna, tanpa perlu suara tinggi atau gestur dominan.
Sebagian besar komunikasi kami berlangsung dengan bantuan teknologi: telepon dan pesan WhatsApp. Di ruang-ruang digital itulah saya melihat sisi lain Prof Amal: lugas, disiplin, dan sangat serius pada substansi. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam urusan akademik dan administrasi. Ketertiban baginya bukan sekadar prosedur, melainkan fondasi mutu dan amanah keilmuan.
Awal 2020, Prof Amal kembali menghubungi saya. Kali ini tentang rencana pembukaan Program Studi Kedokteran di UNIDA Gontor. Universitas Islam Indonesia diminta menjadi pembina. Setelah berdiskusi dengan Dekan Fakultas Kedokteran UII saat itu, saya sampaikan kesiapan UII untuk mendampingi. Prosesnya tidak singkat. Diskusi awal, penajaman konsep, dan persiapan operasional, berjalan cukup panjang.
Hingga akhirnya, akhir 2023, Program Studi Kedokteran UNIDA Gontor resmi berdiri. Sekali lagi, Prof. Amal adalah sosok penting di balik layar dengan ketenangan, konsistensi, dan visinya.
Dalam sebuah kesempatan, Prof Amal pernah berpesan: "Jadilah sarjana yang pejuang, dan pejuang yang sarjana.”
Beliau melanjutkan bahwa dengan menjadi sarjana, seseorang setidaknya memiliki bekal ilmu, sehingga perjuangannya lebih terarah. Sebaliknya, perjuangan tanpa keilmuan akan menjadi sempit dan kurang luwes. Pesan itu tidak berhenti sebagai nasihat; ia menjelma dalam seluruh kiprah hidupnya yang menggabungkan keilmuan, kepemimpinan, dan pengabdian.
Kemarin, 3 Januari 2026, Prof Amal telah berpulang. Namun bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang lain yang pernah bersinggungan dengannya, ia meninggalkan teladan yang jelas: bahwa membangun institusi adalah kerja sunyi, dan menjaga nilai adalah perjuangan panjang.
UNIDA Gontor berdiri dan terus bertumbuh. Program-program akademik berkembang. Di balik semua itu, jejak Prof. Amal tetap bekerja dalam sistem, dalam disiplin, dan dalam pesan yang terus hidup: menjadi sarjana yang berjuang dengan ilmu, dan pejuang yang berpijak pada keilmuan.

1 day ago
3















































