Niat Puasa Arafah, Arab dan Latin Serta Hikmah Agung di Balik Anjurannya

1 hour ago 2

Jamaah haji Indonesia berdoa di maktab pada Hari Arafah, Sabtu (15/6/2024). Jamaah haji seluruh dunia melaksanakan wukuf di Padang Arafah pada puncak musim haji 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Banyak sekali riwayat mengenai keutamaan Hari Arafah, bahkah Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa puncak haji adalah momentum Arafah itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” (HR Tirmidzi)

Dalam kitab Nihayah az-Zain Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H) menjelaskan bahwa puasa ini sangat dianjurkan bagi orang yang tidak sedang berhaji.

Sedangkan bagi yang berhaji, lebih baik tidak berpuasa, sebab jamaah haji dianjurkan menjaga kekuatan fisik agar lebih maksimal dalam melaksanakan wukuf dan memperbanyak dzikir dan berdoa.

وَصَوْمُهُ لِلْحَاجِّ خِلَافُ الْأَوْلَى

“Dan berpuasa pada hari Arafah bagi jamaah haji hukumnya ‘khilaf al-aula’ (lebih utama tidak berpuasa).” (Nihayah az-Zain Fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol 1, h  195)

Adapun lafaz niat puasa Arafah adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi Ta’ala.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Niat puasa ini pada dasarnya sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dilakukan sejak malam hari setelah terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |