Mojtaba Khamenei Tegaskan Iran Tak Inginkan Perang

3 hours ago 1

PEMIMPIN Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat dan Israel, namun tetap akan mempertahankan hak-haknya sebagai negara.

Dikutip Al Arabiya, pernyataan itu disampaikan dalam pesan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah pada Kamis. Ini  bertepatan dengan 40 hari wafatnya sang ayah, Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama konflik, 28 Februari.

Iran Tegaskan Tidak Ingin Perang

Dalam pesannya, Khamenei menegaskan posisi Iran yang tidak mencari konflik terbuka.

“Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya,” ujarnya. Namun ia menambahkan, “Tetapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam keadaan apa pun, dan dalam hal ini kami memandang seluruh perlawanan sebagai satu kesatuan.”

Pernyataan ini merujuk pada aliansi Iran di kawasan, termasuk di Libanon, tempat Israel masih terlibat konflik dengan kelompok sekutu Teheran.

Khamenei juga menegaskan Iran akan menuntut pertanggungjawaban atas serangan yang terjadi.

“Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami tanpa hukuman,” katanya. Ia menambahkan bahwa Iran akan menuntut kompensasi atas seluruh kerusakan, serta darah para syuhada dan korban luka.

Klaim Kemenangan Iran

Menurut laporan Al Jazeera, Khamenei dalam pernyataan yang sama mengklaim Iran telah meraih “kemenangan akhir” dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat. Ia menyebut Iran telah “mengejutkan dunia” sepanjang konflik berlangsung.

Khamenei juga menyerukan agar masyarakat tetap aktif di ruang publik meski gencatan senjata diumumkan.

“Suara Anda di ruang-ruang publik tanpa diragukan berpengaruh terhadap hasil negosiasi,” ujarnya.

Ia menekankan warga tidak boleh menganggap aksi publik tidak lagi diperlukan. Selain itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak berinteraksi dengan media yang “didukung oleh musuh”.

Iran dan Amerika Serikat pekan ini menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan itu membuka peluang perundingan damai setelah meningkatnya ketegangan, termasuk serangan di kawasan Teluk dan tertutupnya Selat Hormuz.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran setuju membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, terdapat laporan bahwa Teheran akan mengenakan biaya pada kapal yang melintas untuk mendukung upaya rekonstruksi.

Pada saat yang sama, serangan udara Israel di Libanon yang menewaskan lebih dari 300 orang mengancam keberlanjutan gencatan senjata. Delegasi Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Pakistan pada Sabtu 11 April 2026 untuk melanjutkan pembicaraan mengakhiri konflik.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |