Menteri PPPA Jenguk Korban Keracunan MBG di Sidoarjo, Pastikan Trauma Healing Jalan Terus

2 hours ago 3

Santri yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan medis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan saat ini seluruh pihak terkait fokus memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan dengan baik oleh rumah sakit dan tenaga medis.

REPUBLIKA.CO.ID, SIDOARJO -- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meninjau kondisi anak yang masih menjalani perawatan pascakejadian keracunan makanan di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan anak usai menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan pemantauan di rumah sakit, kondisi anak-anak yang masih menjalani perawatan terus membaik. Sebagian anak telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah menjalani penanganan dan observasi medis. Sedangkan anak yang masih dirawat terus mendapatkan pemantauan dari tenaga kesehatan.

Arifah mengatakan pemulihan anak perlu menjadi perhatian utama setelah penanganan medis dilakukan. Selain memastikan kondisi fisik anak, pendampingan psikologis juga perlu diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, termasuk apabila terdapat anak yang mengalami trauma pascakejadian.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan anak-anak dalam kondisi sehat dan merasa aman. Setelah kondisi fisiknya membaik, kita juga perlu memastikan kondisi psikologisnya. Jika ada anak yang membutuhkan pendampingan, termasuk trauma healing, kami siap berkoordinasi dan berkolaborasi agar anak-anak dapat kembali beraktivitas dan belajar dengan nyaman,” ujar Arifah pada Sabtu (5/9/2026).

Arifah menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam proses pemulihan anak. Menurutnya, anak perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan yang cukup agar dapat kembali menjalani aktivitas di sekolah maupun pesantren tanpa rasa takut atau kekhawatiran.

“Pemulihan tidak berhenti ketika anak sudah dinyatakan sehat secara medis. Kita perlu memastikan anak dan keluarganya mendapatkan dukungan yang dibutuhkan, sehingga anak dapat kembali ke lingkungan sekolah dan pesantren dengan rasa aman dan nyaman,” ujar Arifah.

Kemen PPPA akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, pihak pesantren dan sekolah, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan proses pemulihan anak dan keluarga berjalan sesuai kebutuhan. Pendampingan psikologis, termasuk trauma healing apabila diperlukan, menjadi bagian dari upaya memastikan anak dapat kembali menjalani aktivitas secara aman dan nyaman.

"Pemulihan anak menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian ini," ujar Arifah.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |