Buku 'Pangan Indonesia' Soroti Pangan sebagai Penentu Kualitas Manusia Indonesia

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan meluncurkan buku 'Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul' dalam rangkaian IdeaFest 2026, Jumat (4/9/2026).

Buku tersebut membahas perjalanan pangan Indonesia melalui sembilan komoditas

strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, daging ruminansia, daging ayam, ikan, telur, susu, dan gula. Pembahasan tidak berhenti pada produksi dan konsumsi, tetapi juga mengaitkannya dengan pemenuhan gizi serta kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Pangan adalah soal hidup. Tapi lebih dari itu, pangan adalah soal siapa kita sebagai bangsa," ujar Zulkifli Hasan dalam acara peluncuran buku tersebut.

Menurut Zulkifli, pemenuhan pangan merupakan bagian penting dari upaya membangun Indonesia yang mandiri sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Karena itu, capaian di sektor pangan perlu dilihat sebagai pijakan untuk memperkuat agenda pangan yang lebih luas.

Salah satu capaian yang diangkat dalam buku adalah produksi beras nasional. Pada 2025, produksi beras mencapai sekitar 34 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Capaian tersebut menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan pangan.

"Tapi capaian ini bukan garis finis. Ini adalah garis start untuk kerja yang lebih besar,

membangun pangan Indonesia untuk peradaban masa depan," kata Zulkifli.

Zulhas menekankan bahwa pembangunan ekosistem pangan membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari petani, nelayan, pelaku usaha, akademisi hingga masyarakat. Selain memastikan ketersediaan pangan, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai sumber pangan dan nilai gizi juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Sementara itu, Dirgayuza mengatakan buku ini juga melihat pangan sebagai bagian dari

perjalanan sejarah dan identitas Indonesia. Keragaman sumber pangan tercermin dari

perbedaan pola konsumsi masyarakat di berbagai daerah.

Dalam proses penulisan buku, ia menemukan bahwa sejumlah pangan yang saat ini umum dikonsumsi masyarakat memiliki sejarah yang relatif baru. Di sisi lain, berbagai sumber pangan lokal seperti sagu, talas, sukun, jewawut, jagung, dan umbi-umbian telah lama menjadi bagian dari pola makan masyarakat Nusantara.

"Buku ini berbicara tentang identitas bangsa. Tentang bagaimana pangan membentuk

kesehatan, kecerdasan, produktivitas, dan daya saing manusia Indonesia," ujar Dirgayuza.

Buku ini terdiri atas empat bab yang membahas perjalanan Indonesia menuju kedaulatan pangan, mulai dari makna kedaulatan pangan hingga gambaran Indonesia setelah mencapai kondisi tersebut. Pembahasannya mencakup komoditas pangan strategis, sejarah dan pola konsumsi, kebijakan, serta ekosistem pangan nasional.

Peluncuran di IdeaFest 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan isu pangan

kepada audiens yang lebih luas. Tahun ini, IdeaFest yang memasuki penyelenggaraan ke-15 mengusung tema ReHumanize, dengan menghadirkan pekerja kreatif, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Melalui buku ini, pangan ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan manusia. Visi tersebut sejalan dengan cita-cita Indonesia 2045 untuk membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing, dengan pemenuhan pangan dan gizi sebagai salah satu fondasinya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |