Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Kementerian keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski kantong negara tekor akibat belanja yang melonjak agresif, pemerintah mengklaim kondisi fiskal masih aman berkat setoran pajak yang tumbuh subur.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.459,4 triliun. Jumlah ini 46,3 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
“Pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun yang telah mencapai 46,3 persen dari target APBN, tumbuh 21,4 persen year on year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Kinerja pendapatan negara ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi, pengawasan dan tata kelola pajak serta bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian/lembaga (K/L) dan badan layanan umum (BLU).
Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 1.187,8 triliun atau 44,1 persen dari target Rp 2.693,7 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak terkumpul sebesar Rp 1.035,7 triliun atau 43,9 persen dari target Rp 2.357,7 triliun, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 152 triliun atau 45,2 persen dari target Rp 336 triliun.
“Jadi, reformasi perpajakan dan organisasi perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Ke depannya akan terus membaik,” ujarnya.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 271 triliun atau 59 persen dari target Rp 459,2 triliun.
sumber : ANTARA

1 week ago
25







































