Menbud Fadli Zon Dorong Penulisan Sejarah

21 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon mendorong para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog dalam negeri untuk menulis hasil pemikiran dan temuan mereka. Dengan begitu, catatan mengenai khazanah alam dan sejarah negeri ini bisa diabadikan dari sudut pandang bangsa sendiri.

Menbud Fadli Zon mengemukakan, banyak catatan mengenai kekayaan alam dan sejarah Indonesia saat ini berasal dari peneliti asing, terutama Belanda. Tidak sekadar menjajah, pemerintah kolonial Belanda pada masa lalu juga gencar mencatat berbagai hal tentang Nusantara.

Sejak masa penjajahan, sudah banyak peneliti Eropa yang datang ke Indonesia dan mencatat fenomena-fenomena alam dan sosial di negeri ini.

"Belanda itu menulis apa saja, dia tulis perjalanan, catatan," kata Menbud Fadli Zon dalam acara Gelar Wicara Sejarah di kantor Kementerian Kebudayaan RI, Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Fadli Zon mencontohkan, kekayaan ragam flora Ambon di Maluku pada masa lalu didokumentasikan oleh Georg Eberhard Rumphius, seorang ahli botani asal Jerman. Kala itu, Rumphius bekerja untuk perusahaan dagang Belanda.

Selain itu, Fadli melanjutkan, ada seorang penjelajah dan sekaligus ilmuwan Inggris, Alfred Russel Wallace. Naturalis ini menjelajahi bagian wilayah Nusantara serta mengumpulkan spesimen dan mempelajari kondisi alamnya.

Ada pula buku tentang Borobudur yang ditulis oleh Theodoor van Erp dan Krom pada tahun 1920 serta Leemans pada tahun 1873.

"Kita ini mungkin kurang ada budaya menulis. Mungkin lebih banyak budayanya bertutur," ucap Menbud.

"Bertutur ini penting, tetapi penutur sangat terbatas. Kalau menulis, itu abadi. Publish or perish. Karena itulah, kita harus menuliskan sejarah kita," sambung dia.

Menbud mengemukakan pentingnya peningkatan penulisan sejarah bagi penguatan identitas nasional Indonesia. Ini pun dilakukan oleh pemerintah kini, yakni dengan menjalankan program penulisan ulang sejarah Indonesia.

"Paling penting bagaimana kita reinventing Indonesian identity, menemukan kembali, melengkapi, menyempurnakan identitas nasional Indonesia yang saya kira sebenarnya sangat kokoh tetapi mungkin belum kita elaborasi lebih jauh," katanya.

Menbud berharap, minat masyarakat untuk menulis dan mempelajari sejarah semakin meningkat.

"Pada prinsipnya tidak ada orang yang bisa terpisah dari masa lalu. Kalau orang mau tahu hari ini Indonesia, ya harus tahu masa lalu. Artinya antara masa lalu, masa kini dan masa depan itu tidak bisa dipisahkan sama sekali," demikian Fadli Zon.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |