REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah perayaan yang penuh syukur, Muhammadiyah menunjukkan vitalitasnya yang luar biasa. Peringatan Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang organisasi Islam terbesar ini, yang terus beradaptasi melintasi tiga zaman dan kini menghadapi era modern dengan penuh optimisme.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sawangan dan PCM Bojongsari, secara kolaboratif, mengadakan perayaan Milad di Garden at Candi Sawangan (30/11). Acara ini dihadiri oleh jajaran lengkap Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Depok—terdiri dari unsur Ketua, Sekretaris, Wakil Ketua, dan Bendahara. Momentum ini menjadi ajang rasa syukur mendalam kepada Allah SWT, dengan harapan amal usaha dan warga Muhammadiyah terus bertambah dan semakin berkemajuan.
Ketua PDM Depok, H. Ali Wartadinata, dalam sambutannya mengungkapkan permohonan maaf PDM Depok yang masih memiliki "hutang janji" kepada warga Sawangan, yaitu mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang kesehatan berupa Rumah Sakit di Sawangan. Hal ini menjadi komitmen yang akan terus diupayakan.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Izzul Muslimin, menyampaikan sejarah berdirinya Muhammadiyah yang akan membawa umat ke depan pintu Surga Jannatul Naim. Untuk memasukinya, dorongannya adalah agar beramal sebanyak-banyaknya. Hal ini sesuai dengan QS Ali Imran ayat 133, yang berisi perintah untuk berlomba-lomba menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, memotivasi umat untuk segera berbuat kebaikan tanpa menunda-nunda.
Persyarikatan Muhammadiyah, dalam usianya yang ke-113 tahun, sudah sangat sepuh. Namun, usia ini tidak memiliki batasan pasti jika dibandingkan dengan kumpulan manusia biasa, sebab "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".
Frasa ini berasal dari firman Allah SWT dalam Alquran, tepatnya Surah Al-Ankabut ayat 57, yang juga menyatakan bahwa setelah kematian, semua akan kembali kepada-Nya. Ini adalah pengingat bahwa kematian tidak dapat dihindari oleh makhluk mana pun, dan menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri dengan amal baik.
Sesuai termaktub dalam AD/ART Muhammadiyah, tujuan utama organisasi adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, menegakkan ajaran Islam dengan ukuran yang ideal yang tidak bisa dihitung secara pasti dengan ribuan Amal Usaha yang sudah tersebar.
Muhammadiyah telah melintasi tiga zaman penting dalam sejarah bangsa. Pertama, zaman sebelum kemerdekaan, di mana perizinan sangat sulit didapatkan saat K.H. Ahmad Dahlan merintis amal usaha di Suronatan hanya dengan menggunakan bangku dan meja. Kedua, zaman Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan ketiga, zaman setelah Kemerdekaan RI hingga saat ini, di era modern generasi Z, di mana pada abad kedua ini Muhammadiyah semakin dipercaya oleh masyarakat nasional maupun internasional.
Ditambahkan dalam sambutannya, Izzul Muslimin mengutip ikon Ahmad Dahlan yang sangat terkenal: 'Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah' yang bermakna hubungan simbiosis mutualisme, hubungan saling menguntungkan. Muhammadiyah berkembang pesat bukan karena hubungan simbiosis parasitisme, seperti benalu yang menempel di induk semangnya, melainkan karena kontribusi tulus dari para kadernya.
sumber : Antara

1 hour ago
1







































