
Oleh : Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Keluarga FKPPI dan ICMI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Surah Al-Balad dalam Alquran adalah salah satu surah yang paling keras menampar struktur mental manusia modern. Ia berbicara tentang kota/negeri (balad), kekuasaan, nasib orang tertindas, dan ilusi ego yang muncul ketika manusia merasa dirinya tidak terbatasi apa pun.
Ayat 5 - 7 menjadi pusat analisis psikologis. Terjemahannya:
“Apakah manusia mengira tidak ada siapa pun yang berkuasa atasnya?
Ia berkata: ‘Aku telah menghabiskan harta yang melimpah!’
Apakah ia mengira tidak ada yang melihat apa yang ia lakukan?”
Ayat-ayat ini bukan sekadar teguran moral; ia adalah anotasi psikologi kekuasaan. Dan ketika kita membacanya lewat lensa teori modern -- terutama melalui karya Dacher Keltner "The Power Paradox" -- kita melihat bahwa Alquran telah menggambarkan mekanisme korupsi kekuasaan jauh sebelum ilmu psikologi sosial memformulasikannya.
Ketika Kekuasaan Membutakan
Dalam The Power Paradox, Dacher Keltner menunjukkan paradoks mendasar: “Kita memperoleh kekuasaan karena kebaikan, tapi kita kehilangan kebaikan karena kekuasaan.”
Menurut risetnya, kekuasaan itu menurunkan sensitivitas empati, mengurangi aktivitas neural yang memproses perasaan orang lain,
meningkatkan impulsivitas dan rasa kebal terhadap konsekuensi, serta menciptakan ilusi bahwa aturan moral “tidak berlaku” bagi dirinya.
Ia menyebutnya empat mekanisme kerusakan kekuasaan: Pertama - ilusi kebal: merasa tidak bisa disentuh.Ini selaras langsung dengan ayat 5: “Apakah manusia mengira tidak ada yang mampu menguasainya?”
Keltner membuktikan bahwa orang yang berkuasa sering merasa:dirinya bukan bagian dari struktur moral umum; hukum tidak menyentuhnya; ia “di atas” konsekuensi.
Inilah yang disebut power - induced invulnerability illusion.
Kedua, overconfidence: kecanduan pamer. Ayat 6: “Ia berkata: 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak!'
Ini bukan sekadar cerita orang boros. Ini display of dominance, pamer kekayaan sebagai sinyal kuasa. Keltner menjelaskan bahwa orang yang berkuasa cenderung: mencari validasi melalui menunjukkan sumber daya,overestimate kemampuan diri,melakukan “konsumsi demonstratif”, mengekspos kekayaan sebagai status sosial.
Ketiga, empathy breakdown: Orang berkuasa jadi tidak mampu “melihat” yang lain. Ayat 7: "Apakah ia mengira tidak ada yang melihat apa yang ia lakukan?"
Dalam tafsir, ulama menjelaskan bahwa ia lupa Allah melihat, ia lupa masyarakat melihat,ia lupa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam istilah Keltner, ini adalah empathic narrowing: kekuasaan mematikan kemampuan melihat penderitaan orang lain.Secara literal, mata hati tertutup.
Keempat -- disinhibisi moral. Keltner menyebut bahwa kekuasaan membuat seseorang: lebih impulsif,lebih agresif,lebih mudah melanggar etika.
Ini selaras dengan konteks sosial QS Al-Balad: manusia yang memonopoli kota, memonopoli harta, dan menindas yang lemah.
Tafsir Al-Balad – Diagnosis Ilahiah atas Penyakit Kekuasaan
Mari kita lihat bagaimana para mufassir klasik membaca ayat-ayat ini: Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat 5–7 mengecam manusia yang merasa dirinya kuat, menganggap harta bisa menjamin segalanya, merasa perbuatannya tidak akan dihisab, lupa bahwa ia selalu berada dalam pengawasan Allah.
Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat 5 adalah peredam kesombongan.
Al-Qurthubi membaca ayat ini sebagai: celaan bagi orang yang yaqdur (berkuasa) lalu berlaku sewenang-wenang,
manusia yang mengira dirinya tidak memiliki saa’iq (pengendali).Dalam bahasa modern, ini adalah hilangnya self-regulation.
Ayat 6 dijelaskan dalam tafsir Al Baghawi sebagai bentuk i’tiraf bil-fakhr, pengakuan yang sifatnya sombong.Inilah bragging. Bragging yang memperlihatkan penyakit hati ketika berkuasa.
Ayat 7 ditafsirkan As Sa'di sebagai: penyakit ghaflah -- lupa bahwa Allah Maha Melihat.Ketika seseorang lupa ia dilihat, ia cenderung melanggar batas moral.
Bagaimana Psikologi Modern dan Tafsir Qurani Bertemu?
Jika kita mendalami dua sudut pandang- riset empiris dan wahyu -ternyata keduanya saling menjelaskan.
Pertama, Alquran memotret “ilusi kebal” lebih awal. Ayat "Apakah manusia mengira bahwa tidak ada yang berkuasa atasnya?” Ini sama dengan temuan Keltner bahwa kekuasaan menanamkan invulnerability bias, membuat seseorang merasa diri lebih “besar” dari sistem hukum, menumbuhkan mentalitas “siapa berani sentuh saya?”
Alquran menyebutnya tughyan (meluap batas). Psikologi sekarang menyebutnya power induced delusion.
Kedua, Alquran memaparkan ‘konsumsi demonstratif’ 1400 tahun sebelum teori ekonomi modern. Ayat “Aku menghabiskan harta yang banyak!”
Ini persis teori Thorstein Veblen: conspicuous consumption; versi Pierre Bourdieu: economic capital sebagai symbolic capital. Dan Keltner menjelaskan bahwa kekuasaan membuat seseorang mengkonsumsi bukan untuk kebutuhan, tetapi untuk pamer status. Alquran memotret fenomena ini jauh sebelumnya.
Ketiga, Alquran memotret penurunan empati akibat kekuasaan.Versi Keltner: “Power diminishes empathy.”
Sedangkan dalam Tafsir Al-Balad: orang berkuasa lupa melihat yang lapar, lupa melihat yatim,lupa melihat miskin yang merayap di kota.
Ayat 7 menegaskan: “Apakah ia mengira tidak ada yang melihat apa yang ia lakukan?” Ini adalah bentuk: hilangnya kesadaran sosial,hilangnya rasa terawasi,hilangnya malu moral.
QS Al-Balad tidak berhenti pada diagnosis. Ia memberikan obat. Pertama,jalan terjal: self-discipline. Ayat 11: “Falaqtahamal-‘aqabah” (“Mengapa ia tidak menempuh jalan terjal?”).
Kekuatan sejati bukan kemewahan,melainkan mengatur ego, menahan nafsu,berkorban untuk yang lemah.
Kedua, memerdekakan manusia. Ayat 13: “Memerdekakan budak.” Dalam konteks modern membebaskan manusia dari struktur penindasan, reformasi ekonomi, pembebasan dari jerat oligarki.
Ketiga, menyantuni kaum rentan.Ayat 14–16: memberi makan saat sulit,peduli yatim, membantu miskin. Keltner menyebut ini sebagai compassion-based power, jenis kekuasaan yang bertahan.
Kesimpulan : Ketika Wahyu dan Ilmu Bersalaman
QS Al-Balad memberi kita bahasa spiritual filosofis bahwa: manusia mudah tertipu kuasa,lupa bahwa ia diawasi,sombong dengan harta, dan melampaui batas moral.
Keltner memberi kita data neuroscientific bahwa kekuasaan mengurangi empati,meningkatkan ilusi kebal,membuat manusia pamer,menurunkan kontrol diri.
Keduanya menunjuk ke diagnosis yang sama: kekuasaan itu rapuh, dan lebih rapuh lagi jiwa yang memegangnya.Tetapi Alquran lebih jauh: Ia bukan hanya mendiagnosis, tetapi memandu manusia menuju “jalan terjal” -- jalan pemerdekaan, keadilan, dan ketulusan sosial.
Jika Keltner mengatakan bahwa kekuasaan sejati dibangun oleh empati, maka Al-Balad mengatakan bahwa jalan ke surga dibangun oleh keberpihakan pada manusia yang tertindas
Substansinya adalah kekuasaan tanpa jiwa adalah kehancuran; kekuasaan dengan jiwa adalah jalan terjal menuju kemuliaan.

2 hours ago
3







































