REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepulauan Indonesia merupakan salah satu wilayah yang menyimpan seni cadas tertua yang diketahui di dunia. Terbaru, penelitian dari tim kolaborasi internasional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Griffith University dan Southern Cross University (Australia), mengungkap penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Penemuan lukisan gua di Leang Metanduno dirilis dalam jurnal ilmiah internasional Nature, dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.
Lukisan gua ini kembali jadi sorotan arkeologi internasional, menyusul paper ilmiah yang ditulis oleh Georges Sauvet berjudul 'Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art'. Artikel ini diterbitkan di Aplomb Publication, AOJ of Historarchaeology & Anthropological Exploration Volume 2 Issue 1 - 2026, pada 20 Mei lalu. Sauvet mengkritisi metodologi pengukuran usia lukisan gua itu. Menurut Sauvet, metodologi tersebut bias, rawan kekeliruan, dan perlu diuji dengan pengujian bersilang dengan metodologi lainnya.
"Penemuan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun di gua batu gamping ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia," demikian rilis BRIN pada 22 Januari 2026.
Temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70 ribu tahun lalu.
Mengacu pada umur situs, maka bisa dibilang lukisan gua ini lebih tua umurnya daripada Situs Gunung Padang di Cianjur, yang diperkirakan berumur sekitar 14 ribu tahun yang lalu, atau dalam penanggalan di titik berbeda di 2.000 tahun yang lalu. Begitu juga Situs Candi Borobudur yang dibangun di abad ke-7.
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana mengungkapkan bahwa usia minimum seni cadas Pulau Muna ini lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros–Pangkep yang ditemukan sebelumnya.
Seni cadas ini juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
Adhi menjelaskan untuk mengungkap usia seni cadas ini, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna.
Temuan ini menegaskan bahwa Wallacea bukan hanya jalur menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal. “Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata Adhi.
Temuan ini sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65 ribu tahun lalu.
“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65 ribu tahun yang lalu,” tambah Dr Oktaviana.
sumber : Rilis

2 hours ago
3

















































