
Oleh : Yusuf Maulana*
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbahagialah suatu masyarakat yang mempunyai pemimpin yang mahir berpidato dan mahir menulis,” tulis KH M Isa Anshari. “Lebih berbahagia lagi orang itu sendiri, yang berkumpul dalam dirinya kecakapan lisan dan kemahiran tulisan. Lidah yang mahir serta pena yang lancar serta tangkas dapat dipergunakan untuk berbakti pada agama dan bangsanya, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, menyebarkan kebenaran.”
Saya kira, masih menurut Isa Anshari, susah dicari dan mahal didapat manusia yang berhimpun di dalam dirinya “dua kekuasaan” (lisan dan tulisan) itu. H. Agus Salim kedua saya kira tidak akan lahir lagi di Indonesia: brilian intelek, lautan ilmu, kaya bahasa, cakap berpidato dan mahir menulis. Bung Karno, sejak zaman kolonial sampai kini memainkan peranan besar dalam panggung sejarah tanah air. Wibawanya yang besar, lidahnya yang perkasa dan penanya yang tajam, telah menghimpun massa rakyat dalam satu nation, bangsa revolusioner.
Penjelasan Isa Anshari tersebut dijumpai dalam bukunya yang berjudul Mujahid Da’wah (1979). Ia mengingatkan pentingnya penguasaan kemampuan lisan dan tulisan bagi para aktivis dakwah.
“Saya kira akan sia-sialah orang yang ingin menjadi Bung Karno kedua. Shahibud Da’wah, propagandis yang bijak, Muballigh yang piawai, ialah yang mahir menggunakan lisan dan tulisan. Pena dan pidato, dua alat kekuasaan dan media da’wah yang paling memegang peranan dalam setiap tingkat perkembangan dan kehidupan masyarakat.”
Para Juru Dakwah Islam perlu lebih memperhatikan kepentingan tulisan sebagai media dakwah. Demikian penekanan dari Kiai Isa Anshari, yang memang dikenal piawai ketika berpidato dan mengalirkan kata-kata lewat tulisan. Sebuah persuaan takdir yang indah bilamana sosok Isa Anshari menjadi salah satu inspirasi bagi seorang Muhammad Jazir ASP muda. Selain dorongan untuk menulis, Isa Anshari juga membawa pemikiran yang membekas bagi Jazir ketika menjelaskan masjid sebagai sentra perubahan sebuah bangsa.
Sebelum berpulang ke hadirat Ilahi pada 2 Syawal 1389 atau 11 Desember 1969, Kiai Isa Anshari sempat menyelesaikan dua naskah. Naskah yang pertama berjudul Falsafah Moral dan Pelita Indonesia; naskah yang kedua berjudul Kembali ke Haramain. Di naskah kedua ini, Jazir mendapatkan hujah yang sangat kuat untuk ‘bercokol’ di masjid selama-lamanya dalam memperbaiki bangsa dan negara.
Negara ideal yang sedianya dibangun Muslimin adalah merujuk pada kekuasaan Rasulullah Muhammad di Madinah. Dan sentral dari kekuasaan politik Nabi itu ada di masjid. Bukan di parlemen atau panggung-panggung politik yang lazim kita kenali sampai hari ini.
***
Kalau Kiai Jazir dengan Masjid Jogokariyan di kemudian hari dikenal luas melalui revolusi kemasjidan, maka hal ini merupakan sesuatu yang jamak. Akan tetapi, bagaimana kita mempelajari pemikirannya secara utuh berupa kata-kata—dan di luar berupa karya empiris yang dapat disaksikan dan dirasakan secara langsung? Apakah Kiai Jazir telah menyiapkan teks-teks untuk ditelaah dan dijadikan inspirasi ruh perjuangan revolusi kemasjidan bagi generasi penerusnya di Jogokariyan ataupun tempat lainnya?
Di titik inilah kita mungkin baru tersadar lalu bertanya-tanya: apakah Kiai Jazir punya karya tulis, yang menggambarkan cetak biru pemikirannya dalam—setidaknya—merintis dan mengembangkan Masjid Jogokariyan? Bagaimanapun, masyarakat lebih mengenal gagasan dan jejak perjuangannya dari tayangan di internet, ceramah-ceramahnya, atau kesaksian para anak didik serta koleganya. Orang, untuk sebagiannya, mengenal Kiai Jazir di mimbar-mimbar pengajian akbar, seminar nasional, training, yang untuk sebagiannya bisa disaksikan di YouTube. Faktanya: ia pernah menekuni tulis-menulis beriringan dengan berbicara di mimbar sejak belia.
Bukan kebetulan bila Kiai Jazir yang mengagumi Kiai Isa Anshari, yang digelari “Napoleon Masyumi”, memiliki kecakapan berpidato atau berorasi di depan khalayak ramai. Namun, sungguh keliru bila di antara kita menyangsikan kecakapan menulis Kiai Jazir.
Di tahun 1980, ketika kekuatan rezim Orde Baru sedang kuat-kuatnya, beliau membuat tulisan berseri dengan judul yang menyengat dan terbilang amat berani di tabloid Ar-Risalah. “Fir’aunisme bangkit kembali,” “Hamanisme dan Prostitusi Kaum Intelektual,” “Bal’amisme dan Kiai-kiai Penjilat Kekuasaan,” “Qarun dan konglomerasi Indonesia.” Tulisan ini buah pikirannya di kala kelas 3 SMA. Sebuah panggilan dan gejolak resah seorang aktivis muda masjid yang akhirnya mengantarkannya masuk bui selama sembilan bulan lewat tuduhan melawan Penetapan Presiden Nomor 11 Tahun 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi.
Tulisan-tulisan analitisnya memang menghilang lama, dan berganti media menjadi uraian lisan di atas panggung. Buat sebagian kalangan ini tentu ini perlu disayangkan. Tentu saja,
Kiai Jazir punya hujjah untuk itu mengingat kesibukannya sebagai ideolog Masjid Jogokariyan dan aktivis dakwah di pelbagai organisasi. Kalau kita simak uraiannya dalam berpidato, kita merasakan gelora yang luar biasa untuk membela agama Allah. Dan yang menarik, ketika pidato dan uraian penjelasan dari wawancara dengannya itu dialihkan menjadi teks, tidak ada sesuatu yang berubah. Beliau, sedikit ataupun banyak, tentu belajar pada Sukarno—sosok lain yang dikagumi dan telah akrab seturut situasi di lingkungan tinggalnya yang sarat ekspresi ideologis.
***
"Saya senang dan puas dengan judul buku ini,” ujar Kiai Jazir kepada penulis, di satu kesempatan di Ramadhan 2024. "Manifesto Masjid Nabi: Rumah Allah yang Memihak Rakyat", judulnya. Menggambarkan bagaimana ruh ideologi dan spirit yang dibangun Kiai Jazir ketika menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai pusat perubahan. Berawal dari tingkat kampung sampai kemudian pengaruhnya melampaui batasan negara bahkan benua.
Bagaimana pembelajaran ke Masjid Jogokariyan bisa mencapai pada arahan yang dikehendaki pelakunya langsung? Langkah yang awal dan vital adalah ketika para pengelola masjid mau mengubah image tentang keberadaan masjid di lingkungannya. Paradigma pengelolaan masjid ini sangat penting bagi seorang Kiai Jazir. Dan Manifesto Masjid Nabi ingin mengingatkan ruh yang tak boleh diabaikan apalagi dihilangkan ketika siapa saja yang mau belajar tentang kemasjidan dari Jogokariyan.
Buku Manifesto Masjid Nabi ditulis bertutur seperti menyimak Kiai Jazir sedang berbicara di depan khalayak. Lewat 9 tulisan dan 1 tulisan apendiks, Kiai Jazir menjelaskan aspek mendasar bagaimana mengubah wajah masjid agar memihak kepada rakyat di sekitarnya; bukan rumah ibadah yang menjaga jarak dari kenyataan sehari-hari warga di sekelilingnya. Buku ini diawali aspek latar belakang pergulatan seorang Jazir belia yang ditempa pertarungan ideologi di kampungnya: Jogokariyan. Intrik dan propaganda kalangan Kiri dan sekuler membekas padanya hingga ia paham apa yang sebenarnya dimaui rakyat alit yang sesungguhnya kebanyakan beridentitas Islam itu.
Kesejahteraan! Kunci itu yang menggelayuti pikirannya, dan itu pula yang jadi paradigmanya ketika didapuk warga Jogokariyan untuk memimpin masjid pada 1999. Baginya, pelayanan ke rakyat di tempat masjid berada, yang muaranya adalah menyejahterakan mereka, merupakan kunci dakwah. Menyentuh hati rakyat yang awalnya jauh atau bahkan benci pada seruan shalat, untuk selanjutnya secara bertahap hatinya “takluk” dan akhirnya mengabdi kepada masjid.
Ketika banyak pengurus masjid saban hari belajar manajemen masjid ke Jogokariyan, Kiai Jazir paham bahwa hasilnya tidak mesti sama. Banyak yang ingin sukses mengelola masjid tapi lupa menanamkan paradigma dan selanjutnya mengelola masjid. Baginya, how to image itu sangat penting, dan itulah yang dilakukannya ketika merintis pemberdayaan rakyat berbasis masjid di Jogokariyan. Atas upayanya, tahun demi tahun Jogokariyan mengalami perubahan sosial horizontal yang signifikan. Orang-orang, bahkan peneliti asing, mendapati perubahan kampung yang awalnya berbasis “merah” menjadi “hijau”.
Manifesto Masjid Nabi, buku setebal 274 halaman, menekankan upaya penanaman ruh dengan pemahaman sejarah. Bahwa memakmurkan masjid harus paham konteks histori di tempat tersebut. Berikutnya, pelibatan anak-anak muda asli; bukan para pendatang yang sekadar indekos dan sewaktu-waktu meninggalkan masjid.
Buku ini buah pikiran dan praksis dakwah KH Muhammad Jazir ASP, yang di masa sebelum wafatnya diamanahi sebagai ketua dewan syuro Masjid Jogokariyan. Sebuah buku untuk memajukan masjid-masjid di Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa ini. Sebuah persembahan peneman bagi siapa saja yang ingin memajukan masjid, memakmurkan rakyat di sekitarnya. Dari pelaku yang bergulat lama soal kemasjidan untuk membagikan sisi-sisi yang selama ini diabaikan mereka yang mencoba mencontoh Masjid Jogokariyan.
Satu pesan dari sosok yang dekat dengan banyak kalangan ini, “Masjid menjadi pusat kesejahteraan rakyat. Harus kita buktikan bahwa konsep Islam itu riil membuat masyarakat senang, makmur, dan sejahtera. Mereka tidak takut dengan Islam, yang semua itu harus diwujudkan sampai tingkat bawah di masjid. Inilah keyakinan saya ketika membangun revolusi kemasjidan.”
Kiranya. Manifesto Masjid Nabi menjadi penanda penting bagi sesiapa yang ingin menyelami ruh gerakan revolusi kemasjidan sebagaimana dilakukan KH Muhammad Jazir ASP yang meninggalkan kita untuk bertemu Allah pada Senin 22 Desember 2025 pada usia 63 tahun.
*Yusuf Maulana adalah pustakawan dan penyunting buku 'Manifesto Masjid Nabi'.

3 hours ago
1















































