Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (6/5/2020). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Rupiah sempat menyentuh level harian paling lemah pada Rp 15.039 per dolar AS pada pagi tadi, saat ini kurs rupiah spot ditutup pada Rp 14.999 per dolar AS.Prayogi/Republika.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan di tengah bergulirnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Diprediksi, Mata Uang Garuda masih akan lesu dan mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,12 persen menuju level Rp 16.892 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.872 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menerangkan, faktor tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen eksternal yang membuat rupiah tertekan.
“Para pedagang mempertimbangkan risiko pasokan di tengah konflik Timur Tengah yang meluas, dimulai pada akhir pekan ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ibrahim menuturkan, situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran pada Selasa. Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.
Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.
“Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak. Mereka mencatat laporan yang mengatakan Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya,” terangnya.
Adapun Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan menyediakan pengawalan untuk kapal komersial jika perlu dan menjanjikan dukungan pemerintah untuk menjamin jalur pelayaran yang aman. Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat.

1 hour ago
2
















































